BEDAH BUKU

Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Yazid bin Abdul Qadir Jawas.
Allah Berfirman:
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Ad dzariyat:56)
A. Definisi Ibadah
Ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut syara’ (terminologi), ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain adalah:
[1]. Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para Rasul-Nya.
[2]. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.
[3]. Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. Yang ketiga ini adalah definisi yang paling lengkap.
Ibadah terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang), dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Sedangkan tasbih, tahlil, takbir, tahmid dan syukur dengan lisan dan hati adalah ibadah lisaniyah qalbiyah (lisan dan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan amalan hati, lisan dan badan.
Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Allah berfirman:
“Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghen-daki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” [Adz-Dzaariyaat : 56-58]
Allah Azza wa Jalla memberitahukan bahwa hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Dan Allah Mahakaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkan-Nya, karena ketergantungan mereka kepada Allah, maka barangsiapa yang menolak beribadah kepada Allah, ia adalah sombong. Siapa yang beribadah kepada-Nya tetapi dengan selain apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah). Dan barangsiapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan apa yang disyari’atkan-Nya, maka ia adalah mukmin muwahhid (yang mengesakan Allah).

B. Pilar-Pilar Ubudiyyah Yang Benar
Sesungguhnya ibadah itu berlandaskan pada tiga pilar pokok, yaitu: hubb (cinta), khauf (takut), raja’ (harapan).

Rasa cinta harus disertai dengan rasa rendah diri, sedang-kan khauf harus dibarengi dengan raja’. Dalam setiap ibadah harus terkumpul unsur-unsur ini. Allah berfirman tentang sifat hamba-hamba-Nya yang mukmin:
“Artinya : Dia mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya.” [Al-Maa-idah: 54]
“Artinya : Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cinta-nya kepada Allah.” [Al-Baqarah: 165]
“Artinya : Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdo’a kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” [Al-Anbiya’: 90]
Sebagian Salaf berkata [2], “Siapa yang beribadah kepada Allah dengan rasa cinta saja, maka ia adalah zindiq [3], siapa yang beribadah kepada-Nya dengan raja’ saja, maka ia adalah murji’[4]. Dan siapa yang beribadah kepada-Nya hanya dengan khauf, maka ia adalah haruriy [5]. Barangsiapa yang beribadah kepada-Nya dengan hubb, khauf, dan raja’, maka ia adalah mukmin muwahhid.”

C. Syarat Diterimanya Ibadah
Ibadah adalah perkara tauqifiyah yaitu tidak ada suatu bentuk ibadah yang disyari’atkan kecuali berdasarkan Al-Qur-an dan As-Sunnah. Apa yang tidak disyari’atkan berarti bid’ah mardudah (bid’ah yang ditolak) sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” [6]
Agar dapat diterima, ibadah disyaratkan harus benar. Dan ibadah itu tidak bisa dikatakan benar kecuali dengan adanya dua syarat:
[a]. Ikhlas karena Allah semata, bebas dari syirik besar dan kecil.
[b]. Ittiba’, sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Syarat yang pertama merupakan konsekuensi dari syahadat laa ilaaha illallaah, karena ia mengharuskan ikhlas beribadah hanya kepada Allah dan jauh dari syirik kepada-Nya. Sedangkan syarat kedua adalah konsekuensi dari syahadat Muhammad Rasulullah, karena ia menuntut wajib-nya taat kepada Rasul, mengikuti syari’atnya dan meninggal-kan bid’ah atau ibadah-ibadah yang diada-adakan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala di sisi Rabb-nya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” [Al-Baqarah: 112]
Aslama wajhahu (menyerahkan diri) artinya memurnikan ibadah kepada Allah. Wahua muhsin (berbuat kebajikan) artinya mengikuti Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Syaikhul Islam mengatakan, “Inti agama ada dua pilar yaitu kita tidak beribadah kecuali hanya kepada Allah, dan kita tidak beribadah kecuali dengan apa yang Dia syari’at-kan, tidak dengan bid’ah.”
Sebagaimana Allah berfirman.
“Artinya : Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaknya ia mengerjakan amal shalih dan janganlah ia mempersekutukan sesuatu pun dalam ber-ibadah kepada Rabb-nya.” [Al-Kahfi: 110]

Hal yang demikian itu merupakan manifestasi (perwujudan) dari dua kalimat syahadat Laa ilaaha illallaah, Muhammad Rasulullah.
Pada yang pertama, kita tidak beribadah kecuali kepada-Nya. Pada yang kedua, bahwasanya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan-Nya yang menyampaikan ajaran-Nya. Maka kita wajib membenarkan dan mempercayai beritanya serta mentaati perintahnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bagai-mana cara kita beribadah kepada Allah, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita dari hal-hal baru atau bid’ah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa semua bid’ah itu sesat. [7]
Bila ada orang yang bertanya: “Apa hikmah di balik kedua syarat bagi sahnya ibadah tersebut?”
Jawabnya adalah sebagai berikut:
[1]. Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah kepada-Nya semata. Maka, beribadah kepada selain Allah di samping beribadah kepada-Nya adalah kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.” [Az-Zumar: 2]
[2]. Sesungguhnya Allah mempunyai hak dan wewenang Tasyri’ (memerintah dan melarang). Hak Tasyri’ adalah hak Allah semata. Maka, barangsiapa beribadah kepada-Nya bukan dengan cara yang diperintahkan-Nya, maka ia telah melibatkan dirinya di dalam Tasyri’.
[3]. Sesungguhnya Allah telah menyempurnakan agama bagi kita[8] Maka, orang yang membuat tata cara ibadah sendiri dari dirinya, berarti ia telah menambah ajaran agama dan menuduh bahwa agama ini tidak sempurna (mempunyai kekurangan).
[4]. Dan sekiranya boleh bagi setiap orang untuk beribadah dengan tata cara dan kehendaknya sendiri, maka setiap orang menjadi memiliki caranya tersendiri dalam ibadah. Jika demikian halnya, maka yang terjadi di dalam ke-hidupan manusia adalah kekacauan yang tiada taranya karena perpecahan dan pertikaian akan meliputi ke-hidupan mereka disebabkan perbedaan kehendak dan perasaan, padahal agama Islam mengajarkan kebersamaan dan kesatuan menurut syari’at yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya.

D. Keutamaan Ibadah
Ibadah di dalam syari’at Islam merupakan tujuan akhir yang dicintai dan diridhai-Nya. Karenanyalah Allah men-ciptakan manusia, mengutus para Rasul dan menurunkan Kitab-Kitab suci-Nya. Orang yang melaksanakannya di-puji dan yang enggan melaksanakannya dicela.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Dan Rabb-mu berfirman, ‘Berdo’alah kepada-Ku, nis-caya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’” [Al-Mu’min: 60]
Ibadah di dalam Islam tidak disyari’atkan untuk mem-persempit atau mempersulit manusia, dan tidak pula untuk menjatuhkan mereka di dalam kesulitan. Akan tetapi ibadah itu disyari’atkan untuk berbagai hikmah yang agung, kemashlahatan besar yang tidak dapat dihitung jumlahnya. Pelaksanaan ibadah dalam Islam semua adalah mudah.
Di antara keutamaan ibadah bahwasanya ibadah mensucikan jiwa dan membersihkannya, dan mengangkatnya ke derajat tertinggi menuju kesempurnaan manusiawi.
Termasuk keutamaan ibadah juga bahwasanya manusia sangat membutuhkan ibadah melebihi segala-galanya, bahkan sangat darurat membutuhkannya. Karena manusia secara tabi’at adalah lemah, fakir (butuh) kepada Allah. Sebagaimana halnya jasad membutuhkan makanan dan minuman, demi-kian pula hati dan ruh memerlukan ibadah dan menghadap kepada Allah. Bahkan kebutuhan ruh manusia kepada ibadah itu lebih besar daripada kebutuhan jasadnya kepada makanan dan minuman, karena sesungguhnya esensi dan subtansi hamba itu adalah hati dan ruhnya, keduanya tidak akan baik kecuali dengan menghadap (bertawajjuh) kepada Allah dengan beribadah. Maka jiwa tidak akan pernah merasakan kedamaian dan ketenteraman kecuali dengan dzikir dan beribadah kepada Allah. Sekalipun seseorang merasakan kelezatan atau kebahagiaan selain dari Allah, maka kelezatan dan kebahagiaan tersebut adalah semu, tidak akan lama, bahkan apa yang ia rasakan itu sama sekali tidak ada kelezatan dan kebahagiaannya.
Adapun bahagia karena Allah dan perasaan takut kepada-Nya, maka itulah kebahagiaan yang tidak akan terhenti dan tidak hilang, dan itulah kesempurnaan dan keindahan serta kebahagiaan yang hakiki. Maka, barangsiapa yang meng-hendaki kebahagiaan abadi hendaklah ia menekuni ibadah kepada Allah semata. Maka dari itu, hanya orang-orang ahli ibadah sejatilah yang merupakan manusia paling bahagia dan paling lapang dadanya.
Tidak ada yang dapat menenteramkan dan mendamaikan serta menjadikan seseorang merasakan kenikmatan hakiki yang ia lakukan kecuali ibadah kepada Allah semata. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak ada kebahagiaan, kelezatan, kenikmatan dan kebaikan hati melainkan bila ia meyakini Allah sebagai Rabb, Pencipta Yang Maha Esa dan ia beribadah hanya kepada Allah saja, sebagai puncak tujuannya dan yang paling dicintainya daripada yang lain.[9]
Termasuk keutamaan ibadah bahwasanya ibadah dapat meringankan seseorang untuk melakukan berbagai kebajikan dan meninggalkan kemunkaran. Ibadah dapat menghibur seseorang ketika dilanda musibah dan me-ringankan beban penderitaan saat susah dan mengalami rasa sakit, semua itu ia terima dengan lapang dada dan jiwa yang tenang.
Termasuk keutamaannya juga, bahwasanya seorang hamba dengan ibadahnya kepada Rabb-nya dapat mem-bebaskan dirinya dari belenggu penghambaan kepada makhluk, ketergantungan, harap dan rasa cemas kepada mereka. Maka dari itu, ia merasa percaya diri dan berjiwa besar karena ia berharap dan takut hanya kepada Allah saja.
Keutamaan ibadah yang paling besar bahwasanya ibadah merupakan sebab utama untuk meraih keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, masuk Surga dan selamat dari siksa Neraka.
Foote Note
[1]. Pembahasan ini dinukil dari kitab ath-Thariiq ilal Islaam (cet. Darul Wathan, th. 1421 H) oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, al-‘Ubudiyyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah tahqiq Syaikh ‘Ali bin Hasan ‘Abdul Hamid, dan Mawaaridul Amaan al-Muntaqa min Ighaatsatul Lahafan oleh Syaikh ‘Ali bin Hasan ‘Abdul Hamid.
[2]. Lihat al-‘Ubuudiyyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, tahqiq Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali ‘Abdul Hamid al-Halaby al-Atsary (hal. 161-162), Maktabah Darul Ashaalah 1416 H
[3]. Zindiq adalah orang yang munafik, sesat dan mulhid.
[4]. Murji’ adalah orang murji’ah, yaitu golongan yang mengatakan bahwa amal bukan bagian dari iman, iman hanya dalam hati.
[5]. Haruriy adalah orang dari golongan khawarij yang pertama kali muncul di Harura’, dekat Kufah, yang berkeyakinan bahwa orang mukmin yang berdosa besar adalah kafir.
[6]. HR. Muslim (no. 1718 (18)) dan Ahmad (VI/146; 180; 256), dari hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anha.
[7]. Lihat al-‘Ubudiyyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, tahqiq ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid (hal. 221-222).
[8]. Lihat surat Al-Maa-idah ayat 3.
[9]. Mawaaridul Amaan al-Muntaqa min Ighatsatul Lahafan (hal. 67), oleh Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul Hamid
Sumber : http://abuafif.wordpress.com/2007/08/09/pengertian-ibadah-dalam-islam/

ReviewAHKAMUL AQIQAHJan 14, '08 2:18 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Abu Muhammad 'Ishom bin Mar'i
Aqiqah
Abu Muhammad 'Ishom bin Mar'i
--------------------------------------------------------------------------------
Disalin ringkas kembali dari kitab Ahkamul Aqiqah karya Abu Muhammad 'Ishom bin Mar'i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Adam al-Bustoni, dengan judul Aqiqah terbitan Titian Ilahi Press, Yogjakarta, 1997.
1. Pengertian Aqiqah
2. Dalil-dalil Syar'i Tentang Aqiqah
3. Hukum-Hukum Seputar Aqiqah
4. Aqiqah Dengan Kambing
4.1 Tidak Sah Aqiqah Kecuali dengan Kambing
4.2 Persyaratan Kambing Aqiqah Tidak Sama dengan Kambing Kurban (Idul
4.3 Bacaan Ketika Menyembelih Kambing
4.4 Boleh Menghancurkan Tulangnya (Daging Sembelihan Aqiqah) Sebagaimana
4.5 Tidak Sah Aqiqah Seseorang Kalau Daging Sembelihannya Dijual
4.6 Jika Aqiqah Bertepatan dengan Idul Qurban, Maka Tidak Sah Kalau
4.7 Tidak Sah Aqiqah Seseorang yang Bersedekah dengan Harga Daging
5. Adab Menghadiri Jamuan Aqiqah
1. Pengertian Aqiqah
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Tuhfatul Maudud hal.25-26, mengatakan bahwa: Imam Jauhari berkata : Aqiqah ialah "Menyembelih hewan pada hari ketujuhnya dan mencukur rambutnya". Selanjutnya Ibnu Qayyim berkata: "Dari penjelasan ini jelaslah bahwa aqiqah itu disebut demikian karena mengandung dua unsur diatas dan ini lebih utama."

Imam Ahmad dan jumhur ulama berpendapat bahwa apabila ditinjau dari segi syar'i maka yang dimaksud dengan aqiqah adalah makna berkurban atau menyembelih (an-nasikah).
2. Dalil-dalil Syar'i Tentang Aqiqah

Hadist no.1: Dari Salman bin Amir Ad-Dhabiy, dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan dam hilangkanlah semua gangguan darinya." [Shahih HR Bukhari (5472), untuk lebih lengkapnya lihat Fathul Bari (9/590-592), dan Irwaul Ghalil (1171), Syaikh Albani] Makna menghilangkan gangguan adalah mencukur rambut bayi atau menghilangkan semua gangguan yang ada [Fathul Bari (9/593) dan Nailul Authar (5/35), Cetakan Darul Kutub Al-'Ilmiyah, pent]
Hadist no.2: Dari Samurah bin Jundab dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : "Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama dan dicukur rambutnya." [Shahih, HR Abu Dawud 2838, Tirmidzi 1552, Nasa'i 7/166, Ibnu Majah 3165, Ahmad 5/7-8, 17-18, 22, Ad Darimi 2/81, dan lain-lainnya]
Hadist no.3: Dari Aisyah dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan bayi perempuan satu kambing." [Shahih, HR Ahmad (2/31, 158, 251), Tirmidzi (1513), Ibnu Majah (3163), dengan sanad hasan]
Hadist no.4: Dari Ibnu Abbas bahwasannya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Mengaqiqahi Hasan dan Husain dengan satu kambing dan satu kambing." [HR Abu Dawud (2841) Ibnu Jarud dalam kitab al-Muntaqa (912) Thabrani (11/316) dengan sanadnya shahih sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Daqiqiel 'Ied]
Hadist no.5: Dari 'Amr bin Syu'aib dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing." [Sanadnya Hasan, HR Abu Dawud (2843), Nasa'i (7/162-163), Ahmad (2286, 3176) dan Abdur Razaq (4/330), dan shahihkan oleh al-Hakim (4/238)].
Hadist no.6: Dari Fatimah binti Muhammad ketika melahirkan Hasan, dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan perak kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya." [Sanadnya Hasan, HR Ahmad (6/390), Thabrani dalam Mu'jamul Kabir 1/121/2, dan al-Baihaqi (9/304) dari Syuraiq dari Abdillah bin Muhammad bin Uqoil]

Dari dalil-dalil yang diterangkan di atas maka dapat diambil hukum-hukum mengenai seputar aqiqah dan hal ini dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam para sahabat serta para ulama salafusholih
3. Hukum-Hukum Seputar Aqiqah
Hukum Aqiqah Sunnah Al 'Allamah Imam Asy-Syaukhani rahimahullah berkata dalam Nailul Authar (6/213):


Aqiqah adalah Sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam


"Jumhur ulama berdalil atas sunnahnya aqiqah dengan hadist Nabi ..." berdasarkan hadist no.5 dari 'Amir bin Syu'aib. Bantahan Terhadap Orang yang Mengingkari dan Membid'ahkan Aqiqah Ibnul Mundzir rahimahullah membantah mereka dengan mengatakan bahwa: "Orang-orang Aqlaniyyun (orang-orang yang mengukur kebenaran dengan akalnya, saat ini seperti sekelompok orang yang menamakan sebagai kaum Islam Liberal, pen) mengingkari sunnahnya aqiqah, pendapat mereka ini jelas menyimpang jauh dari hadist-hadist yang tsabit (shahih) dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam karena berdalih dengan hujjah yang lebih lemah dari sarang laba-laba." [Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya Tuhfatul Maudud hal.20, dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (9/588)].


Waktu Aqiqah Pada Hari Ketujuh Berdasarkan hadist no.2 dari Samurah bin Jundab.

Para ulama berpendapat dan sepakat bahwa waktu aqiqah yang paling utama adalah hari ketujuh dari hari kelahirannya. Namun mereka berselisih pendapat tentang bolehnya melaksanakan aqiqah sebelum hari ketujuh atau sesudahnya.

Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam kitabnya Fathul Bari (9/594):


"Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pada perkataan 'pada hari ketujuh kelahirannya' (hadist no.2), ini sebagai dalil bagi orang yang berpendapat bahwa waktu aqiqah itu adanya pada hari ketujuh dan orang yang melaksanakannya sebelum hari ketujuh berarti tidak melaksanakan aqiqah tepat pada waktunya. Bahwasannya syariat aqiqah akan gugur setelah lewat hari ketujuh. Dan ini merupakan pendapat Imam Malik. Beliau berkata: "Kalau bayi itu meninggal sebelum hari ketujuh maka gugurlah sunnah aqiqah bagi kedua orang tuanya"."

Sebagian membolehkan melaksanakannya sebelum hari ketujuh. Pendapat ini dinukil dari Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya Tuhfatul Maudud hal.35.


Sebagian lagi berpendapat boleh dilaksanakan setelah hari ketujuh.

Pendapat ini dinukil dari Ibnu Hazm dalam kitabnya al-Muhalla 7/527.

Sebagian ulama lainnya membatasi waktu pada hari ketujuh dari hari kelahirannya. Jika tidak bisa melaksanakannya pada hari ketujuh maka boleh pada hari ke-14, jika tidak bisa boleh dikerjakan pada hari ke-21. Berdalil dari riwayat Thabrani dalam kitab As-Shagir (1/256) dari Ismail bin Muslim dari Qatadah dari Abdullah bin Buraidah:


"Kurban untuk pelaksanaan aqiqah, dilaksanakan pada hari ketujuh atau hari ke-14 atau hari ke-21." [Penulis berkata: "Dia (Ismail) seorang rawi yang lemah karena jelek hafalannya, seperti dikatakan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (9/594)." Dan dijelaskan pula tentang kedhaifannya bahkan hadist ini mungkar dan mudraj]


Bersedekah dengan Perak Seberat Timbangan Rambut

Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Salim bin Dhoyyan berkata :

"Dan disunnahkan mencukur rambut bayi, bersedekah dengan perak seberat timbangan rambutnya dan diberi nama pada hari ketujuhnya. Masih ada ulama yang menerangkan tentang sunnahnya amalan tersebut (bersedekah dengan perak), seperti: al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani, Imam Ahmad, dan lain-lain."

Adapun hadist tentang perintah untuk bersedekah dengan emas, ini adalah hadit dhoif.

Tidak Ada Tuntunan Bagi Orang Dewasa Mengaqiqahi Dirinya Sendiri Sebagian ulama mengatakan : "Seseorang yang tidak diaqiqahi pada masa kecilnya maka boleh melakukannya sendiri ketika sudah dewasa."

Mungkin mereka berpegang dengan hadist Anas yang berbunyi :

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengaqiqahi dirinya sendiri setelah beliau diangkat sebagai nabi. [Dhaif mungkar, HR Abdur Razaq (4/326) dan Abu Syaikh dari jalan Qatadah dari Anas]

Sebenarnya mereka tidak punya hujjah sama sekali karena hadistnya dhaif dan mungkar. Telah dijelaskan pula bahwa nasikah atau aqiqah hanya pada satu waktu (tidak ada waktu lain) yaitu pada hari ketujuh dari hari kelahirannya. Tidak diragukan lagi bahwa ketentuan waktu aqiqah ini mencakup orang dewasa maupun anak kecil.


Aqiqah untuk Anak Laki-laki Dua Kambing dan Perempuan Satu Kambing Berdasarkan hadist no.3 dan no.5 dari Aisyah dan 'Amr bin Syu'aib.

Setelah menyebutkan dua hadist diatas, al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam Fathul Bari (9/592): "Semua hadist yang semakna dengan ini menjadi hujjah bagi jumhur ulama dalam membedakan antara bayi laki-laki dan bayi perempuan dalam masalah aqiqah."

Imam Ash-Shan'ani rahimahullah dalam kitabnya Subulus Salam (4/1427) mengomentari hadist Aisyah tersebut diatas dengan perkataannya: "Hadist ini menunjukkan bahwa jumlah kambing yang disembelih untuk bayi perempuan ialah setengah dari bayi laki-laki."

Al-'Allamah Shiddiq Hasan Khan rahimahullah dalam kitabnya Raudhatun Nadiyyah (2/26) berkata: "Telah menjadi ijma' ulama bahwa aqiqah untuk bayi perempuan adalah satu kambing."

Penulis berkata: "Ketetapan ini (bayi laki-laki dua kambing dan perempuan satu kambing) tidak diragukan lagi kebenarannya."


- Boleh Menaqiqahi Bayi Laki-laki dengan Satu Kambing Berdasarkan hadist no.4 dari Ibnu Abbas.

Sebagian ulama berpendapat boleh mengaqiqahi bayi laki-laki dengan satu kambing yang dinukil dari perkataan Abdullah bin 'Umar, 'Urwah bin Zubair, Imam Malik dan lain-lain mereka semua berdalil dengan hadist Ibnu Abbas diatas.

Tetapi al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam kitabnya Fathul Bari (9/592): ..meskipun hadist riwayat Ibnu Abbas itu tsabit (shahih), tidaklah menafikan hadist mutawatir yang menentukan dua kambing untuk bayi laki-laki. Maksud hadist itu hanyalah untuk menunjukkan bolehnya mengaqiqahi bayi laki-laki dengan satu kambing.

Sunnah ini hanya berlaku untuk orang yang tidak mampu melaksanakan aqiqah dengan dua kambing. Jika dia mampu maka sunnah yang shahih adalah laki-laki dengan dua kambing.
4. Aqiqah Dengan Kambing
4.1 Tidak Sah Aqiqah Kecuali dengan Kambing
Telah lewat beberapa hadist yang menerangkan keharusan menyembelih dua ekor kambing untuk laki-laki dan satu ekor kambing untuk perempuan. Ini menandakan keharusan untuk aqiqah dengan kambing.

Dalam Fathul Bari (9/593) al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan: "Para ulama mengambil dalil dari penyebutan syaatun dan kabsyun (kibas, anak domba yang telah muncul gigi gerahamnya) untuk menentukan kambing buat aqiqah." Menurut beliau: "Tidak sah aqiqah seorang yang menyembelih selain kambing".

Sebagian ulama berpendapat dibolehkannya aqiqah dengan unta, sapi, dan lain-lain. Tetapi pendapat ini lemah karena:

Hadist-hadist shahih yang menunjukkan keharusan aqiqah dengan kambing semuanya shahih, sebagaimana pembahasan sebelumnya. Hadist-hadist yang mendukung pendapat dibolehkannya aqiqah dengan selain kambing adalah hadist yang talif saqith alias dha'if.

4.2 Persyaratan Kambing Aqiqah Tidak Sama dengan Kambing Kurban (Idul Adha)
Penulis mengambil hujjah ini berdasarkan pendapat dari Imam As-Shan'ani, Imam Syaukani, dan Iman Ibnu Hazm bahwa kambing aqiqah tidak disyaratkan harus mencapai umur tertentu atau harus tidak cacat sebagaimana kambing Idul Adha, meskipun yang lebih utama adalah yang tidak cacat.

Imam As-Shan'ani dalam kitabnya Subulus Salam (4/1428) berkata :


"Pada lafadz syaatun (dalam hadist sebelumnya) menunjukkan persyaratan kambing untuk aqiqah tidak sama dengan hewan kurban. Adapun orang yang menyamakan persyaratannya, mereka hanya berdalil dengan qiyas."

Imam Syaukhani dalam kitabnya Nailul Authar (6/220) berkata :


"Sudah jelas bahwa konsekuensi qiyas semacam ini akan menimbulkan suatu hukum bahwa semua penyembelihan hukumnya sunnah, sedang sunnah adalah salah satu bentuk ibadah. Dan saya tidak pernah mendengar seorangpun mengatakan samanya persyaratan antara hewan kurban (Idul Adha) dengan pesta-pesta (sembelihan) lainnya. Oleh karena itu, jelaslah bagi kita bahwa tidak ada satupun ulama yang berpendapat dengan qiyas ini sehingga ini merupakan qiyas yang bathil."

Imam Ibnu Hazm dalam kitabnya Al-Muhalla (7/523) berkata :


"Orang yang melaksanakan aqiqah dengan kambing yang cacat, tetap sah aqiqahnya sekalipun cacatnya termasuk kategori yang dibolehkan dalam kurban Idul Adha ataupun yang tidak dibolehkan. Namun lebih baik (afdhol) kalau kambing itu bebas dari catat."

4.3 Bacaan Ketika Menyembelih Kambing
Firman Allah Ta'ala:


"Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu dan sebutlah nama Allah" (QS. Al-Maidah : 4)

Firman Allah Ta'ala:


"Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya, sesungguhnya perbuatan semacam itu adalah suatu kefasikan." (QS. Al-An'am : 121)

Adapun petunjuk Nabi tentang tasmiyah (membaca bismillah) sedah masyhur dan telah kita ketahui bersama (lihat Irwaul Ghalil 2529-2536-2545-2551, karya Syaikh Al-Albani). Oleh karena itu, doa tersebut juga diucapkan ketika meyembelih hewan untuk aqiqah karena merupakan salah satu jenis kurban yang disyariatkan oleh Islam. Maka orang yang menyembelih itu biasa mengucapkan: "Bismillahi wa Allahu Akbar".

Mengusap Darah Sembelihan Aqiqah di Atas Kepala Bayi Merupakan Perbuatan Bid'ah dan Jahiliyah

Dari Aisyah berkata: Dahulu ahlul kitab pada masa jahiliyah, apabila mau mengaqiqahi bayinya, mereka mencelupkan kapas pada darah sembelihan hewan aqiqah. Setelah mencukur rambut bayi tersebut, mereka mengusapkan kapas tersebut pada kepalanya! Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jadikanlah (gantikanlah) darah dengan khuluqun (sejenis minyak wangi)." [Shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (5284), Abu Dawud (2743), dan disahihkan oleh Hakim (2/438)]

Al-'Allamah Syaikh Al-Albani dalam kitabnya Irwaul Ghalil (4/388) berkata : "Mengusap kepala bayi dengan darah sembelihan aqiqah termasuk kebiasaan orang-orang jahiliyah yang telah dihapus oleh Islam."

Al-'Allamah Imam Syaukani dalam kitabnya Nailul Aithar (6/214) menyatakan: "Jumhur ulama memakruhkan (membenci) at-tadmiyah (mengusap kepala bayi dnegan darah sembelihan aqiqah)."

Sedangkan pendapat yang membolehkan dengan hujjah dari Ibnu Abbas bahwasannya dia berkata : "Tujuh perkara yang termasuk amalan sunnah terhadap anak kecil: ...dan diusap dengan darah sembelihan aqiqah." [HR Thabrani], maka ini merupakan hujjah yang dhaif dan mungkar.

4.4 Boleh Menghancurkan Tulangnya (Daging Sembelihan Aqiqah) Sebagaimana Sembelihan Lainnya
Inilah kesepekatan para ulama, yakni boleh menghancurkan tulangnya, seperti ditegaskan Imam Malik dalam Al-Muwaththa (2/502), karena tidak adanya dalil yang melarang maupun yang menunjukkan makruhnya. Sedang menghancurkan tulang sembelihan sudah menjadi kebiasan disamping ada kebaikannya juga, yaitu bisa diambil manfaat dari sumsum tersebut untuk dimakan.

Adapun pendapat yang menyelisihinya berdalil dengan hadist yang dhaif, diantaranya adalah :

Bahwasannya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah kalian menghancurkan tulang sembelihannya." [Hadist Dhaif, karena mursal terputus sanadnya, HR. Baihaqi (9/304)]

Dari Aisyah dia berkata: " ...termasuk sunnah aqiqah yaitu tidak menghancurkan tulang sembelihannya... " [Hadist Dhaif, mungkar dan mudraj, HR. Hakim (4/283]

Kedua hadist diatas tidak boleh dijadikan dalil karena keduanya tidak shahih. [lihat kitab Al-Muhalla oleh Ibnu Hazm (7/528-529)].

Disunnahkan Memasak Daging Sembelihan Aqiqah dan Tidak Memberikannya dalam Keadaan Mentah

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Tuhfathul Maudud hal.43-44, berkata :


"Memasak daging aqiqah termasuk sunnah. Yang demikian itu, karena jika dagingnya sudah dimasak maka orang-orang miskin dan tetangga (yang mendapat bagian) tidak merasa repot lagi. Dan ini akan menambah kebaikan dan rasa syukur terhadap nikmat tersebut. Para tetangga, anak-anak dan orang-orang miskin dapat menyantapnya dengan gembira. Sebab orang yang diberi daging yang sudah masak, siap makan, dan enak rasanya, tentu rasa gembiranya lebih dibanding jika daging mentah yang masih membutuhkan tenaga lagi untuk memasaknya... Dan pada umumnya, makanan syukuran (dibuat dalam rangka untuk menunjukka rasa syukur) dimasak dahulu sebelum diberikan atau dihidangkan kepada orang lain."

4.5 Tidak Sah Aqiqah Seseorang Kalau Daging Sembelihannya Dijual
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Tuhfathul Maudud hal.51-52, berkata :


"Aqiqah merupakan salah satu bentuk ibadah (taqarrub) kepada Allah Ta'ala. Barangsiapa menjual daging sembelihannya sedikit saja maka pada hakekatnya sama saja tidak melaksanakannya. Sebab hal itu akan mengurangi inti penyembelihannya. Dan atas dasar itulah, maka aqiqahnya tidak lagi sesuai dengan tuntunan syariat secara penuh sehingga aqiqahnya tidak sah. Demikian pula jika harga dari penjualan itu digunakan untuk upah penyembelihannya atau upah mengulitinya" [lihat pula Al-Muwaththa (2/502) oleh Imam Malik].

Orang yang Aqiqah Boleh Memakan, Bersedekah, Memberi Makan, dan Menghadiahkan Daging Sembelihannya, Tetapi yang Lebih Utama Jika Semua Diamalkan

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Tuhfathul Maudud hal.48-49, berkata :


"Karena tidak ada dalil dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tentang cara penggunaan atau pembagian dagingnya maka kita kembali ke hokum asal, yaitu seseorang yang melaksanakan aqiqah boleh memakannya, memberi makan dengannya, bersedekah dengannya kepada orang fakir miskin atau menghadiahkannya kepada teman-teman atau karib kerabat. Akan tetapi lebih utama kalau diamalkan semuanya, karena dengan demikian akan membuat senang teman-temannya yang ikut menikmati daging tersebut, berbuat baik kepada fakir miskin, dan akan memuat saling cinta antar sesama teman. Kita memohon taufiq dan kebenaran kepada Allah Ta'ala". [lihat pula Al-Muwaththa (2/502) oleh Imam Malik].

4.6 Jika Aqiqah Bertepatan dengan Idul Qurban, Maka Tidak Sah Kalau Mengerjakan Salah Satunya (Satu Amalan Dua Niat)
Penulis berkata: "Dalam masalah ini pendapat yang benar adalah tidak sah menggabungkan niat aqiqah dengan kurban, kedua-duanya harus dikerjakan. Sebab aqiqah dan adhiyah (kurban) adalah bentuk ibadah yang tidak sama jika ditinjau dari segi bentuknya dan tidak ada dalil yang menjelaskan sahnya mengerjakan salah satunya dengan niat dua amalan sekaligus. Sedangkan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan Allah Ta'ala tidak pernah lupa."

4.7 Tidak Sah Aqiqah Seseorang yang Bersedekah dengan Harga Daging Sembelihannya Sekalipun Lebih Banyak
Al-Khallah pernah berkata dalam kitabnya: Bab Maa yustahabbu minal aqiqah wa fadhliha 'ala ash-shadaqah:


"Kami diberitahu Sulaiman bin Asy'ats, dia berkata Saya mendengar Ahmad bin Hambal pernah ditanya tentang aqiqah: 'Mana yang kamu senangi, daging aqiqahnya atau memberikan harganya kepada orang lain (yakni aqiqah kambing diganti dengan uang yang disedekahkan seharga dagingnya)?' Beliau menjawab: 'Daging aqiqahnya'." [Dinukil dari Ibnul Qayyim dalam Tuhfathul Maudud hal.35 dari Al-Khallal]

Penulis berkata: "Karena tidak ada dalil yang menunjukkan bolehnya bershadaqah dengan harga (daging sembelihan aqiqah) sekalipun lebih banyak, maka aqiqah seseorang tidak sah jika bershadaqah dengan harganya dan ini termasuk perbuatan bid'ah yang mungkar! Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam"
5. Adab Menghadiri Jamuan Aqiqah
Diantara bid'ah yang sering dikerjakan khususnya oleh ahlu ilmu adalah memberikan ceramah yang berkaitan dengan hokum aqiqah dan adab-adabnya serta yang berkaitan dengan masalah kelahiran ketika berkumpulnya orang banyak (undangan) di acara aqiqahan pada hari ketujuh.

Jadi saat undangan pada berkumpul di acara aqiqahan, mereka membuat suatu acara yang berisi ceramah, rangkaian do'a-do'a, dan bentuk-bentuk seperti ibadah lainnya, yang mereka meyakini bahwa semuanya termasuk dari amalan yang baik, padahal tidak lain hal itu adalah bid'ah, (pen).

Perbuatan semacam itu tidak pernah dicontohkan dalam sunnah yang shahih bahkan dalam dhaif sekalipun!! Dan tidak pernah pula dikerjakan oleh Salafush Sholih rahimahumulloh. Seandainya perbuatan ini baik niscaya mereka sudah terlebih dahulu mengamalkannya daripada kita. Dan ini termasuk dalam hal bid'ah-bid'ah lainnya yang sering dikerjakan oleh sebagian masyarakat kita dan telah masuk sampai ke depan pintu rumah-rumah kita, (pen) !!

Sedangkan yang disyariatkan disini adalah bahwa berkumpulnya kita di dalam acara aqiqahan hanyalah untuk menampakkan kesenangan serta menyambut kelahiran bayi dan bukan untuk rangkaian ibadah lainnya yang dibuat-buat.

Sedang sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam. Semua kabaikan itu adalah dengan mengikuti Salaf dan semua kejelekan ada pada bid'ahnya Khalaf.
Wallahul Musta'an wa alaihi at-tiklaan.

Sumber : www.src.annajiyah.or.id

ReviewMELACAK TEORI EINSTEIN DALAM AL-QUR'ANDec 27, '07 2:07 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Wisnu Arya Wardhana
BOOK REVIEW
MELACAK TEORI EINSTEIN DALAM AL-QUR’AN

Judul : Al-Qur’an dan Teori Einstein : Melacak Teori Einstein dalam Al-Qur’an .
Pengarang : Wisnu Arya Wardhana.
Penerbit : Pustaka Pelajar
Tahun : 2006
Tebal : xiviii + 291

Al-Qur'an adalah kitab suci yang berfungsi sebagai pedoman hidup . Karena itu umat Islam harus senantiasa membaca dan menelaah secara intensif agar semua aspek kehidupan umat Islam merujuk pada Al-Qur'an . Demikia juga perkembangan sains dan teknologi mempunyai pengaruh luas terhadap kehidupan manusia . Revolusi sains telah mencapai puncaknya pada abad 20 dan salah satu tokoh nya adalah Albert Einstein . Tahun 2005 dirayakan para ilmuwan sebagai tahun fisik untuk mengenang 100 tahun diterbitkannya tulisan Einstein tentang relativitas yang telah melambungkan namanya .
Ungkapan Einstein yang terkenal adalah ilmu tanpa agama akan buta sedangkan agama tanpa ilmu akan lumpuh dianggap sebagai religisiusan nya . ungkapan ini menempatkan posisi agama dan sains sama pentingnya bagi kehidupan manusia .
Buku berjudul “Al-Qur'an dan Teori Einstein : Melacak Teori Einstein dalam Al-Qur'an “yang ditulis Wisnu Arya Whardana merupakan upaya untuk mengintegrasikan agama dan sains.

Sekilas Tentang Penulis
H.Wisnu Arya Wardhana adalah seorang dosen pada Perguruan Tinggi Kedinasan , Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN ) – Badan Tenaga Nuklir Nasional di Yogyakarta dan menjadi dosen tidak tetap di fakultas Teknik UGM.
Pendidikan Formal beliau adalah:
1. Teknik Kimia , Fakultas Teknik – Universitas Gadjah Mada , Yogyakarta (1976)
2. Teknik Nuklir , Fakultas Teknik – Universitas Gadjah Mada , Yogyakarta (1979)
3. Australian School of Nuclear Technology , University of New South Wales , Sydney , Australia (1985)
4. Radioisotop and Nukear engineering School , Tokyo , Japan (1988)
Beliau pernah menjabat sebagai direktur STTN (1987-1996) dan pada saat ini beliau aktif dalam jabatan fungsional Widyaiswara sebagai Widyaiswara Utama atau sama dengan Ahli Peneliti Utama atau setingkat dengan Guru Besar ( Profesor ) .
Karya-karya tulis Beliau yang sempat diterbitkan adalah :
1. Tenik Analisis Radioaktivitas Lingkungan , Penerbit Andi Offset , Yogyakarta , 1994, (100 halaman +viii)
2. Dampak Pencemaran Lingkungan , penerbit Andi Offset , Yogyakarta , 1995, (460 halaman +xv)
3. Al-Qur'an dan Energi Nuklir , Penerbit Pustaka Pelajar , Yogyakarta , 2004 9 296 halaman + xxii)
4. Al-Qur'an dan Teori Einstein : Melacak Teori Einstein dalam Al-Qur'an , penerbit Pustaka Pelajar , Yogyakarta ,2005

Melacak Teori Einstein dalam Al-Qur'an
Buku in terdiri dari sepuluh bab , yang terdiri dari bagian pendahuluan bagian Islam dan bagian penutup . Bagian pendahuluan menguraikan mengenai fungsi Al-Qur'an bagi manusia dan menarasikan riwayat hidup Einstein . Kesesuian Al-Qur'an dengan IPTEK dijelaskan dalam Bagian isi , sedangkan pada bagian penutup merupakan bukti bahwa IPTEK membawa kedekatan dengan Allah swt.
Pada Bab I penulis mengungkapakan keutamaan menuntut ilmu seperti yang terdapat pada Al-Qur'an surat Al-Alaq ayat 1 . Wisnu Arya Wardhana juga mengungkapkan bahwa ternyata kecemerlangan teori Einstein pada abad 20 sebenarnya sudah tersirat dalam naskah kuno (Al-Qur'an ) yang ditulis pada 15 abad yang lalu .
Pada Bab 2 , Wisnu Arya Wardhana menguraikan mengenai fungsi Al-Qur'an dalam berbagi bidang kehidupan manusia . Secara garis besar Wisnu Arya Wardhana membagi fungsi Al-Qur'an menjadi 2 , yaitu sebagai petunjuk bagi manusia dan rujukan bagi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi . Sebagai makhluk yang hidup di dua alam ( dunia dan akhirat ) , manusia memerlukan pedoman yang dapat menjadi pembimbing dalam menjalani kehidupan di dunia dan mempersiapkan diri untuk menjalani kehidupan di akhirat . Al-Qur'an adalah rujukan bagi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi , banyak ayat Al-Qur'an yang menyiratkan mengenai ilmu . Beberapa ilmu yang tersirat dalam Al-Qur'an adalah :
rotasi bumi , tersirat pada Al-Qur'an surat Az-Zummar ayat 5
pengetahuan biologi , tersirat pada Al-Qur'an surat Ar-Rahman ayat 10-13 , Al Mu’minun ayat 19-22 , Al Qiyamah ayat 37-39 , Al Hajj ayat 5
energi , tersirat dalam Al-Qur'an surat Ar Ruum ayat 46, Al Luqman ayat 31, Yaa Siin ayat 80 , Al Waagi’ah ayat 71-74, An Nur 35, Al Mu’min ayat 80
ilmu astronomi , tersirat pada Al-Qur'an Ar Rahman ayat 33
ilmu sejarah , tersirat pada Al-Qur'an surat Al Fiil ayat 1-5, Yunus ayat 90-92, Ar Ruum ayat 2-4
ilmu kemasyarakatan , tersirat pada Al-Qur'an surat Ali Imron ayat 103 , An Nisa ayat 59, Al Muddatsir ayat 38 , Ash Shaffat ayat 25
ilmu perdagangan dan ekonommi , tersirat dalam Al-Qur'an surat An Nisa ayat 29 , Al Baqarah ayat 282
ilmu sastra dan budaya , tersirat dalam Al-Qur'an surat Yusuf ayat 1-3 , Az Zumar ayat 27-28 , Az Zukhruf ayat 3 , Fushshilat ayat 44 ,

Pada Bab 3 , Wisnu Arya Wardhana menjelaskan mengenai kewajiban seorang muslim untuk menuntut ilmu .IPTEK atau Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sering diucapkan bersama dengan IMTAQ atau Iman dan Taqwa . Pada Al-Qur'an surat Al Baqarah ayat 269 dijelaskan bahwa hanya orang orang yang berakal saja yang dapat mengambil hikmah berupa penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi . Bangsa yang besar adalah bangsa yang menguasaa Ilmu Pengetahuan dan Teknologi . Selain itu dengan ilmu kita dapat menguasai dunia dan dengan ilmu pula kita dapat meraih akhirat dan dengan ilmu pulalah kita dapat menguasai keduanya ( Hadits Nabi)
Dalam Bab 3 juga dikisahkan mengenai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi umat Islam dari masa lalu hingga masa sekarang . Islam pernah menjadi pelopor dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bahkan orang orang barat menjadikan Islam sebagai acuan dan sering pula mengutip bahkan maniru ilmudari umat Islam . Secara jujur George Sarton , penulis buku “ Introduction To The History of Science ” mengatakan bahwa ada 100 ilmuwan besar Islam berikut hasil karya utamanya yang patut diketahui ( hal 55 ).
Semangat para ilmuwan Islam dalam mengembangkan ilmu begitu tinggi antara lain disebabkan karena :
dilandasi semangat ibadah
kebutuhan hidup mereka telah dijamin oleh Negara
penghargaan terhadap hasil penemuan baru sangat besar
pembangunan fasilitas ilmiah sangat didukung oleh pemerintah
penghargaan terhadap hasil karya sesame ilmuwa Islam sangat tinggi

Sementara itu pada masa sekarang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi umat Islam banyak sekali mengalami kemunduran . Faktor-faktor penyebab kemunnduran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi umat Islam antara lain :
1. kesadaran orang barat akan arti penting penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
2. orang barat ingin membuktikan bahwa dengan agama nasrani , mereka dapat mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
3. orang barat berjiwa petualang , dan akhirnya menemukan rute perdagangan baru yang menyebabkan pendapatan negeri Islam berkurang
4. orang barat sengaja menghancurka fasilitas keilmuan Islam
5. ketergantungan terhadap produk barat
6. ketergantungan dalam bidang pemerintahan
7. kolonialisme menjauhkan Negara Islam dari bahasa arab , dan akibatnya menjauhkan mereka dari Al-Qur'an , yang menjadi sumber Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
8. ketidakstabilan politik dan ekonmi akibat kolonialisme

Pada halaman 63 Wisnu Arya Wardhana juga menuliskan sitiran dari Iqbal ,penyair terkenal Pakistan , tentang kondisi umat Islam pada masa sekarang yang isinya :
“Mulim kemarin bangga dan dihormati karena ilmunya …, tapi hari ini punggung mereka menunduk dihadapan orang lain .”
Pada Bab 3 ini Wisnu Arya Wardhana menjelaskan tentang kesesuaian perkembengan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan Al-Qur'an . Beliau mengungkapkan kontroversi kloning yang tidak sesuai dengan ajaran Islam , dan expedisi manusia ke luar angkasa . Al-Qur'an banyak mengandung ayat tentang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi , kejayaan umat Islam dapat kembali terwujud apabila kita kembali merujuk kepada Al-Qur'an yang seharusnya menjadi pedoman hidup mausia .
Riwayat hidup Einstein ditunjukkan pada bab 4 . Wisnu Arya Wardhana menunjukkan pada pembaca tentang perjalanan hidup seorang Einstein . Wisnu Arya Wardhana menceritakan bagaiman masa kecil Einstein yang ternyata dibalik ketenarannya , ia mengalami keterlambatan pertumbuhan pada masa kecilnya , bahkan ia juga tidak lulus SMP .Penulis juga menceritakan mengenai kegemaran Einstein terhadap biola yang merupakan bakat turunan dari Paulina Koch , ibunya . Sejak kecil Einstein sangat gemar terhadap matematika dan fisika, bahkan pada usia 12 tahun Einstein sudah belajar calculus tanpa kesulitan . Einstein suka menganalisa kejadian kejadian di alam berdasarkan fungsi fisika dan matematika .
Wisnu Arya Wardhana mengungkapkan bahwa di dalam Al-Qur'an ada banyak masaalah matematika dan fisika , Dr Rasyid Khalifa dan Ahmed Deedat dalam bukunya “ Al-Qur'an The Ultimate Miracle ” mengungkapkan tentang matematika terdapat dalam Al-Qur'an ( hal. 110 ), matematika disini adalah angka 19 yang disebut dalam Al-Qur'an surat Al Muddatstsir ayat 30 . Oleh Dr Rasyid Khalifa dan Ahmed Deedat ,angka 19 ini disebut sebagai keajaiban , antara lain :
Kalimat Basmalah mengandung 19 huruf arab
Surat Al Alaq jumlahnya 19 ayat
Jumlah surat Al-Qur'an sebanyak 114 yang bias dibagi 19
Ada 2698 kata Allah dalam Al-Qur'an , bilangan 2698 habis dibagi 19
Ada 57 kata Ar Rahman dalam Al-Qur'an , bilangan 57 habis dibagi 19
Ada 114 kata Ar Rahim dalam Al-Qur'an , bilangan 114 habis dibagi 19
Ada 19 kata “ismi” dalam Al-Qur'an
Ada 133 kata “nun” yang mengawali surat dalam Al-Qur'an , yang bias habis dibagi 19
Ada 57 huruf “Qaaf” dalam surat Qaaf, yang bisa habis dibagi 19

Pada Bab 5 , Wisnu Arya Wardhana menguraikan mengenai perjalanan Einstein hingga mendapatkan hadiah nobel . Wisnu Arya Wardhana menceritakan perjalanan hidup Einstein . Setelah lulus dari SMA dengan nilai minim , Einstein masuk Insitut Politeknik di Zurich , Swiss. Setelah lulus , Einstein belum bias langsung mendapat pekerjaan karena nilainya kurang bagus . Einstein bahka mengubah kewarganegaraan dari Jerman menjadi berkewarganeraan Swiss , Einstein juga sempat menjadi guru les privat SMA , hingga akhirnya Einstein bekerja sebagai juru tulis di kantor patent di Bern .
Hasil pemikiran Einstein antara lain :
1. teori efek photo listrik yang menjelaskan pengeluaran elektron dari orbitnya akibat adanya partikel lain yang menabraknya .
2. Teori menghitung energi cahaya ;
E = h υ : E= energi cahaya
H= konstanta palnck
υ=frekuensi

Pada tahun 1905 Einstein mengumumkan teori-teori baru dalam bidang fisika teori yang disebut sebagai Teori Einstein , yaitu:
Kecepatan cahaya adalah 300.000 km/detik ; kecepatan cahaya adalah kecepatan tertinggi di alam ini
Kesetaraan energi dan masa
E = m c2 ; E = energi
m = massa benda
c = kecepatan cahaya
Teori relativitas Einstein

m = massa benda bergerak
mo = massa benda diam
v = kecepatan benda bergerak
c = kecepatan cahaya

Ketiga teori Einstein tersebut belum banyak mendapat perhatian dari para ilmuwan .Pada tahun 1907 Einstein mengerjakan teori kuantum untuk perhitungan fenomena panas pada suhu rendah , dan Einstein mulai menarik para ilmuwan .Pada tahun 1912 Einstein menerima tawaran mengajar fisika teori di Universitas Zurich , Swiss dan Universitas Jerman di Praha .Tahun 1913 Einstein menerima tawaran sebagai direktur Institut Fisika Kaisar Wilhelm di Berlin , meskipun akibatnya Einstein harus bercerai dengan istrinya , Mileve Marie , yang lebih mencintai negaranya , Swiss . Einstein mulai diperhatikan para ilmuwan , kedudukan dan keadaan ekonominya makin mantap , akan tetepi rumah tangganya hambar karena Einstein tidak punya istri lagi . Tapi setelah Einstein memutuskan untuk menikah dengan Elsa , Einstein mulai bersemangat lagi dengan penelitiannya .
Tahun 1916 , Einstein mengemukakan Teori relativitas umum dan dipatentkan atas nama Einstein sebagai dosen / ilmuwan / fisikawan , bukan sebagai seorang juru tulis kantor patent .Tahun 1926 akhirnya Einstein menrima hadiah nobel dalam bidang fisika , khususnya mengenai teori efek photo listrik yang dikemukakan tahun 1905, dan bukan dari teori relativtasnya yang terkenal itu .
Ketiga teori Einstein membahas mengenai kecepatan cahaya . Kecepatan cahay sudah menjadi focus dari penelitian banyak ilmuwan antara lain Ibnu Sina ( Avicenna )Abu Ali bin Al Hassan Ibn Al Haytsam ( Alhazen ) pada 1039 M ,Olaus Roemer ( 1976) , James Bradley ( 1728) , Armand Fizeau ( 1849 ), Leon Foucault(1859) , Rosa dan Dorsey ( 1907 ) dan yang terakhir Evanson ( 1973). Pada awalnya kecepatan cahaya dianggap takterhingga , tapi dari penelitian–penelitian di atas didapat kecepatan cahaya ternyata mendekati hara yang terhingga . Ketertarikan Einstein terhadap cahaya disebabkan karena apa sebenarnya maksud Tuhna menciptakan cahaya , karena sesungguhnya segala sesuatu yang diciptakan Tuhan pasti ada gunanya . Einstein berfikir apa sebenarnya manfaat kecepatan cahaya ynag begitu besar itu . Hingga akhirnya muncullah ketiga teori Einstein tersebut , dan Einstein lah yang pertama kali menggunakan “c” dalam memecahkan persoalan yang dihadapi dalam fisika modern . Sehingga para fisikawan sepakat menamakan harga “c” sebagai konstanta Einstein .
Di dalam pencariannya menemukan teori-teori fisika , Einstein berfikir kearah penciptaan alam semesta ini , karena Einstein menemukan keseimbangan , keteraturan dan kesempurnaan hokum alam .Pengamatan Einstein inilah yang membawanya kepada suasana kejiwaan yang “religius” . Einstein ingin mengetahui tentang Sang Maha Pencipta yang paling sesuai dengan logika dan jalan pikirannya , bukan hanya harus dipercayai secara dogmatis seperti yang dialami Einstein selama ini .
Einstein melengkapi bukti bukti ilmiah dari pengamatannya selama ini dengan bukti bukti filosofis yang mendukung . Einstein banyak membaca tentang pendapat Plato dan Aristoteles .
Hasil pengamatan Einstein bahwa alam semesta ini senantiasa berkembang , dalam astrofisika dijelaskan dengan “The Red Shifts Theory” . Einstein juga yakin bahwa pasti ada awal mula penciptaan alam semesta ini , dalam astrofisika , awal mula penciptaan alam semesta dikenal dengan teori “big bang” . Einstein memandang peristiwa ini secara matematika . Einstein menganggapnya sebagai proses integrasi . Harga batasnya didapat dari teori “the white dwarf” ( proses kematian suatu bintang ). Dari pengamatan –pengamatan nya ini , Einstein berpendapat bahwa :
“Satu-satunya hal yang tidak dapat dimengerti mengenai alam semesta ini adalah bahwa dia dapat dimengerti” ( hal145 )
Wisnu Arya Wardhana mengungkapkan bahwa dari pemikiran Einstein yang berpendapat bahwa alam semesta ini ada awal penciptaannya , Einstein mulai berpikir pasti ada yang menciptakannya . Pencarian eksistensi Tuhan juga sudah dilakukan oleh ilmuwan lain seperti Stephen Hawking , selain itu filosof bahkan biarawan juga telah melakukannya .
Pencarian eksistensi TUhan oleh para ilmuwan barat adalah hal yang sangat menarik , karena dengan pencariannya tersebut mereka mencoba berpikir tentang pemisahan antara masalah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan masalah agama , atau lebih dikenal dengan pemikiran sekuler . Kenyataan ini menunjukkan bahwa para ilmuwan dan filosof barat mendapat kesulitan menerapkan hasil pemikiran mereka tentang alam semesta yang rasional dengan kenyataan yang ada dalam kitab suci mereka
Pencarian Einstein tentang eksistensi Tuhan , membawanya pada kesimpulan bahwa eksistensi Tuhan tidak dapat dirumuskan secara matematika atau fisika . Einstein menyatakan bahwa :
“Tuhan memang rumit , tetapi tidak jahat”( hal 154 ) .
Pengakuan Einstein tersebut , mengungkapkan bahwa tidak mungkin dengan kemampuan terbatas manusia , kita bias mencoba mengetahui tentang zat-Nya . Seperti yang terungka dalam hadist nabi :
“Berpikirlah tentang segala ciptaan Allah , Akan tetapi janganlah berpikir tentang zat-Nya”
Jadi eksistensi Tuhan akan nampak dari pemikiran kita terhadap penciptaan langit dan bumi , termasuk penciptaan diri manusia sendiri tanpa harus memikirkan bentuk eksistensi Tuhan sebagai fungsi persamaan matematika atau fisika .
Keterkaitan teori Einstein dengan Al-Qur'an ditunjukkan dalam bab 6 . Titik focus Einstein dalam pencarian eksistensi Tuhan ternyata bukan dengan besaran-besaran fisika melainkan melalui pengamatan alam semesta . Banyak ayat dalam Al-Qur'an yang baik seacara tersurat maupun tersirat mmangajak manusia untuk melakukan pengamatan terhadap alam semesta . Dari Hasil pengamatan tersebut akan nampak kesesuaian nya dengan apa yang terkandung dalam Al-Qur'an , dan ada akhirnya nanti akan semakin membawa manusia lebih dekat dengan Sang Pencipta .
Pemahaman ayat-ayat Al-Qur'an adalah termasuk amalan “tajdid” , yang sangat tergantung dengan tingkat pengetahuan seseorang . Jadi seiring dengan beerkembangnya Ilmu Pengetahuan manusia maka akan semakin berkembang pulalah kemampuan mamhami makna yang terkandung dalam Al-Qur'an .
Wisnu Arya Wardhana juga menguraikan mengenai teori Einstein yang sebenarnya telah termuat dalam Al-Qur'an . Ketiga teori Einstein memuat kecepatan cahaya , di dalam Al-Qur'an surat Yunus ayat 5 dijelaskan :
Matahari dan bulan memiliki garis edarnya sendiri
Matahari dan bulan memiliki periode edarnya sendiri-sendiri
tersirat kecepatan jalannya cahaya
Kecepatan cahaya sendiri sudah tersirat dalam Al-Qur'an surat As Sajadah ayat 5 , yeitu tentang kecepatan malaikat turun dari langit ke bumi dan kembali menghadap Allah dalam satu hari yang lamanya sama dengan 1000 tahun menurut ukuran manusia .Hal itu membuktikan bahwa cahaya adalah kecepatan tertinggi dan manusia tidak bias menyamainya dan menunjukkan suatu besarab yang dapat menunjukkan kecepatan cahaya .
Wisnu Arya Wardhana juga menunjukkan cara peghitungan kecepatan cahaya melalui versi Al-Qur'an dan membandingkannya dengan peneliti peneliti terdahulu , yang ternyata hasilnya mendekati nilai-nilai dari hasil pengukuran ilmuwan ilmuwan sebelumnya , yaitu kalau dibulatkan sebesar 300000 km/detik .
Dr.Mansour Hasaf ElNabi , seorang ahli astrofisika Mesir menemukan cara perhitungan kecepatan cahaya , sebagai berikut :
[Jarak yang ditempuh oleh “Sang Uruan ” ( Malaikat /nur ) dalam satu hari ] =
[Jarak yang ditempuh oleh bulan selama 1000 tahun atau 12000 bulan ]
c.t = 12000 . L
dengan :
c= kecepatan cahaya
t= waktu selama 1 hari
L= panjang rute edar bulan selama satu bulan
Untuk menghitung lebih lanjut , Wisnu Arya Wardhana menjelaskan bahwa dalam astronomi dikenal 2 macam sistem kalender bulan , yaitu
Sistem Sinodik , yaitu kalender bulan yang didasarkan pad apenampakan semu gerak bulan dan matahari apabila dilihat dari bumi
Berdasarkan sitem Sinodik :
1 hari = 24 jam
1 bulan = 29,52059 hari
Sistem Sideral , yaitu kalender bulan yang didasarkan pada pergerakan relatif bulan dan matahari terhadap bintang dan alam semesta
Berdasarkan Sistem Sideral :
1 hari = 23 jam 56 menit 4,0906 detik = 86164,0906 detik
1 bulan = 27,321661 hari
Perhitungan akan mendekati nilai kecepatan cahaya yang lebih tepat jika menggunakan sistem sideral
Revolusi bulan penuh berbentuk kurva , membentuk sudut 26,928480 dan memerlukan waktu 27,321661 hari (sistem sideral ). Panjang garis lengkung , adalah
L = v.t
Dengan :
L= panjang garis lengkung
v = kecepatan bulan
T= periode revolusi bulan (27,321661 hari)
Ada 2 macam kecepatan bulan yaitu:
Kecepatan relatif terhadap bumi
v* = 2πR/T
dengan :
R = jari-jari revolusi bulan =384264 km
T = periode revolusi bulan = 655,71986 jam
v* = 2 (3,14) (384264) /(655,71986) = 3682,07 km/jam
Kecepatan relatif terhadap bintang dan alam semesta
Menurut Einstein faktor koreksi Kecepatan relatif terhadap bintang dan alam semesta
terhadap Kecepatan relatif terhadap bumi adalah cosinus ,
v = v* . cos α = v* . cos 26,928480

Bila dihitung lebih lanjut
c.t = 12000.L ; dengan L = v . T
c . t = 12000 .v . T ; v = v* . cos α
c . t = 12000 . ( v* . cos α ). T ; v* = 3682,07 km/jam
T = 655,71986 jam
t = 86164,0906 detik
sehingga
c = 12000 . ( v* . cos α ) . T/t
= 12000 (3682,07 .cos 26,928480 ) 655,71986 / 86164,0906
= 299792,5 km/detik
Harga c diatas adalah hasil perhitungan berdasarkan Al-Qur'an yang nilainya adalah mendekati nilai c yang sudah dibuktikan oleh banyak ilmuwan
Teori kedua Einstein menyatakan adanya kesetaraan energi dengan massa ; E = m . c2 . Teori ini dapat diterapkan pada teori “the white dwarf” atau bintang yang padam . Dalam Al-Qur'an surat Al Qiyamah ayat 7-9 juga dijelaskan tentang fenomena bintang yang padam dan akan menjadi ringan dan kehilangan gaya gravitasinya , akibatnya garis edarnya menjadi tidak teratur karena tertarik oleh gravitasi bintang lain .
Teori ketiga Einstein atau relativitas khusus Einstein mengemukakan hubungan massa benda bergerak yang lebih besar dari masa diamnya .

Dalam Al-Qur'an surat Ar Rahman ayat 33 mengungkapkan bahwa untuk menembus penjuru langit dan bumi harus dengan kekuatan . Untuk terbang ke bintang terdekat manusia , ada 2 cara , pertama manusia harus terbang dengan kecepatan cahaya selama 4 tahun , dan itu tidak mungkin karena dengan kecepatan itu massa manusia akan menjadi tak terhingga .
Cara kedua dengan kecepatan 1/100 kecepatan cahaya , tapi dengan kecepatan itu akan menimbulkan gesekan terlalu tinggi dan pesawat akan terbakar . selain itu dengan kecepatan 1/100 kecepatan cahaya berarti perlu waktu 400 tahun perjalanan , yang tentu saja tidak mungkin dicapai manusia .
Wisnu Arya Wardhana mununjukkan bahwa ada kecepatan yang lebih tinggi dari kecepatan cahaya ,
elektron yang begerak di dalam kolam teras reaktor nuklir mempunyai kecepatan yang lebih tinggi dari kecepatan cahaya di medium air
Sinar laser dapat menembus atom Caesium lebih cepat daripada kecepatan cahaya menembus atom Caesium ( diperkirakan sampai lebih cepat 300 kali
Berdasarkan kedua penilitian tersebut Wisnu Arya Wardhana mengembalikan hal tersebut bahwa bertambahnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi akan membawa manusia menyadari keterbasannya ilmunya ( Q.S.Al Israa’ : 85 )
Bab 7 menunjukkan bukti kebenaran Al-Qur'an melalui Ilmu Pengetahuan dan Teknologi . Ayat-ayat Al-Qur'an yang membawa manusia utuk mengamati alam semesta selalu diakhiri dengan pengakuan kepada Sang Pencipta .Manusia dikaruniai mata telinga dan hati untuk dapat mangambil pelajaran dari apa yang ada di lingkungan nya , dan diharapkan dengan inderanya tersebut manusia dapat lebih dapat membawa kedekatan manusia dengan Allah swt . Dalam Al-Qur'an surat Faaathir ayat 28 juga menjelaskan hal yang senada , yaitu orang yang takut kepada Allah adalah orang yang berilmu.
Banyak ayat-ayat Al-Qur'an yang secara langsung maupun tidak langsung mengungkapkan fenomena fenomena alam yang dapat dijelaskan secara logika . Manusia hanya harus menggunakan kemempuan yang dikaruniakan oleh Allah untuk memahami dan kemudian dapat memanfaatkannya untuk membawa kebaikan bagi kehidupan manusia . Dalam pandangan Islam kegiatan ilmiah yang bernilai ibadah ditandai dengan :
1. sejalan dengan isi dan kandungan Al-Qur'an
2. harus membawa manfaat bagi umat manusia
3. membawa pengakuan terhadap kemahakuasaan Allah
4. membawa kedekatan kepada Sang Khaliknya

Dalam bab ini Wisnu Arya Wardhana juga menjelaskan tentang fungsi manusia sebagai khalifah di muka bumi . Manusia adalah makhluk yang paling mulia (Q.S Al Israa’:70) , jadi manusia harus mampu menjadi pemimpin bagi yang lain . Sebagai umat terbaik manusia diperintahkan untuk mengabdi dan selau mengingat Allah , berbuat amar ma’ruf nahi munkar adalah wujud pengabdian kepada Allah . Dalam setiap kegiatannya jika diawali dengan ingat kepada Allah adalah ibadah .
Seluruh Alam semesta ini tunduk kepada Allah dan bertasbih kepada-Nya., yang didasarkan pada kesadaran bahwa semuanya akan kembali kepada Allah . Semua yang bernyawa akan mati dan akan kembali kepada Sang Pencipta (Q.S Al Anbiyaa’:35) . Bertasbih adalah proses mengingatkan kita akan adanya hari akhir dan semuanya harus mempersiapkan bekal untuk menghadapinya .
Pada bab 8 menceritakan Einstein yang akhirnya menemukan Tuhan . Mendekati usia 40 Einstein mulai produktif dan hasil karyanya mulai diminati . Ia memutuskan pindah ke Amerika karena tidak suka denga sistem pemerintahan Hitler yang membatasi kebebasannya dalam berbicara . Einstein juga mengusulkan penelitian pembuatan bom atom meski pada akhirnya ia menyesali sikapnya itu karena banyak menimbulkan korban . Pada usia 60 tahun Einstein banyak merenung . Einstein merenungkan kekeliruannya menciptakan bom atom yang menimbulkan kerusakan besar , padahal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi seharusnya memberikan kesejahteraan bagi umat manusia . untuk menebus kekeliruannya Einstein mengecam perguruan tinggi yang mengajarkan ilmu peperangan dan industri yang memasok senjata . Einstein bersama Bertrand Russell juga mendeklarasikan gerakan anti bom-H dan anti perang .
Pada tahun 1952 Einstein menolak tawaran untuk menjadi presiden Israel dengan alas an ia lebih suka mengamati alam semesta yang menjadikan dirinya lebih religius daripada menjadi presiden . Dalam usia tuanya Einstein juga tetap gigih mencari eksistensi Tuhan bahkan lebih jauh lagi Einstein ingin pikiran-pikiran Tuhan .
Sebelum meninggal Einstein sempat berkata mengenai apa yang selama ini ia kerjakan ( hal 235) :
“Saya berpikir terus menerus , berbulan bulan dan bahkan bertahun tahun . Sembilan puluh sembilan konklusi saya keliru , akan tetapi yang keseratus kali saya benar .”
Di antara 99 kali konklusi Einstein yang salah adalah kemungkinan tentang pencarian eksistensi Tuhan sebagai fungsi matematika dengn melibatkan besaran besaran fisika di dalamnya . Sedang konklusi Einstein yang ke-100 kali benar adalah eksistensi Tuhan ada tanpa dicari dengan fungsi matematika .
Ungkapan Einstein yang menunjukkan diperlukannya agama dalam berbagai bidang ilmu adalah :
“Ilmu pengetahuan tanpa agama buta , agama tanpa ilmu pengetahuan lumpuh”
Ungkapan itu adalah sindiran kepada ilmuwan-ilmuwan barat yang masih berpikir sekuler , karena sesungguhnya segala sesuatu di alam ini memenuhi aturan-aturan Allah , dan agama adalah pegangan hidup bagi manusia , jadi sudah semestinya keseimbangan yang ada di alam semesta ini selalu sesuai dengan agama yang menjadi pedoman bagi manusia .Jika ada ketidaksesuaian berarti agama yang dianut oleh ilmuwan barat itu bukan lah pedoman hidup yang benar bagi manusia
Bab 9 memuat Komentar dari beberapa tokoh mengenai proses pengamatan alam semesta dalam rangka mencari eksistensi Tuhan . Dengan ungkapan halus Sri Paus Yohanes Paulus II menyatakan keprihatinannya terhadap sikap dan cara berpikir ilmuwan barat yang hendak mencari eksistensi Tuhan berdasarkan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi , yang seolah-olah ingin mendudukkan sosok Tuhan sama dengan obyek pengamatan alam semesta ini . Wisnu Arya Wardhana juga menunjukkan beberapa pandangan ilmuwan barat :
1. Steven Weinberg ; dia mengingkari adanya tujuan Tuhan menciptakan alam semesta ini , dan menunjukkan tidak adanya rasa syukur dan terima kasih kepada Sang Pencipta atas segala nikmat yang dilimpahkan kepada manusia .
2. G.G.Simpson ; senada dengan Steven Weinberg , dia menganggap proses penciptaan manusia ynag tidak bertujuan
3. Jacques Monod ; dia mengatakan bahwa manusia muncul secara kebetulan dan mengingkari adanya nasib yang sudah ditentukan
Sementara itu bagi ilmuwan muslim sudah jelas bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah pasti ada tujuannya dan segala hasil pemikirannya selalu menuju pada pengakuan akan keagungan dan kebesaran Tuhan Sang Maha Pencipta .
Seorang Misionaris Jerman , M.A. Hobohm pernah mengatakan bahwa pencarian eksistensi Tuhan dengan filsafat Yunani dan kegiatan ilmiah pasti akan menemui ketidakcocokan karena filsafat Yunani dipengaruhi mitos yang tidak rasional dan sadar atau tidak kitab suci mereka telah dikotori oleh mitos Yunani ( hellenisme )
Ahli Filsafat John O’Donnel juga sependapat bahwa kitab suci mereka sudah dipengaruhi dengan hellenisme .
DR.Jerald F.Dirks menunjukkan bagaimana ketekunananya mempelajari ajaran kitab suci baik dari Al-Qur'an maupun injil , sehingga diperooleh kebenaran yang tidak bertentangan dengan Al-Qur'an . Hinggaakhirnya belia menjadi ilmuwan muslim
Bahkan Nopoleon Bonaparte pernah mengatakan bahwa ia akan mengajak para ilmuwan dari berbagai Negara untuk elihat da merujuk pada Al-Qur'an dan meninggalkan akidah Trinitas .
Ajaran Trinitas dalam kitab injil sebenarnya adalah hasil pengaruh kebudayaan Yunani . Jadi jelaslah bahwa ilmuwan barat terpaksa berpiki sekuler karena hasil pengamatannya tentang alam tidak sesuai dengan kenyataan di dalam Kitab Suci mereka .
Bab 10 adalah kesimpulan dari pembahasan pembahasan pada bab sebelumnya . Selain kembali menyimpulkan uraian dari bab-bab sebelumnya Wisnu Arya Wardhana juga memberikan kesimpulan sekaligus ajakan bagi pembaca mengenai esensi buku ini , yaitu :
ajakan untuk melakukan pengamatan terhadapa alam semesta , Hingga nanti akan muncul ungkapan tulus yang membuktikan eksistensi Tuhan tanpa harus mencari bagaimana fungsi matematikanya
Teori Einstein sudah tersirat dalam Al-Qur'an , maka jelaslah bahwa Al-Qur'an disusun oleh Pemilik Segala Ilmu dan dan ilmu yang terkandung didalamnya berlaku untuk sepanjang jaman
hasil pengamatan alam semsta akan membawa kedekatan pada Alah swt .
Kelebihan buku ini adalah :
1. membahas bidang yang sangat penting bagi perkembangan umat Islam , yaitu adanya keseimbangan antara kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan keyakinan terhadap kebesaran Allah swt.
2. mampu menyajikan teori-teori secata jelas kepada pembaca , jadi bagi pembaca yang punya dasar ilmu yang berbeda masih mampu untu memahami buku ini
3. mampu menunjukkan kesesuain teori-teori mengenai IPTEK da ayat-ayat dalm Al-Qur'an

ReviewHIMPUNAN FADHILAH AMALDec 11, '07 9:32 PM
for everyone
Category:Books
Genre: Religion & Spirituality
Author:Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi
Bagus


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help