Ilmu, kebutuhan primer bagi seseorang. Kebutuhannya terhadap ilmu lebih besar dibanding kebutuhan badannya terhadap makanan dan minuman. Kalau seseorang tidak makan dan tidak minum, itu hanya bisa menyebabkan sakit jasmaninya yang puncaknya adalah kematian jasmani itu. Adapun setelah badannya terbujur kaku, dia tidak akan lagi merasakan sakit yang diderita. Beda halnya seseorang yang tidak mensuplai rohaninya dengan ilmu agama. Hatinya akan sakit kemuadian akan mati, sementara matinya hati seseorang itu lebih parah dari pada mati raganya, karena matinya hati menyebabkan kesesatan semasa hidup di dunia. Ditambah lagi, kelak di akhirat masih harus merasakan azab Allah ta’ala. Naudzu billahi min dzalik.
Sebagian ahli hikmah mengatakan, “Bukankah seseorang yang sakit bila tidak makan, dan minum, dan tidak minum obat, dia akan mati ?” Jawabnya, “Tentu” “Demikian pula hati, bila tidak disuplai dengan ilmu dan hikmah selama tiga hari, maka hati itu akan mati.”
Benar yang dikatakan oleh ahli hikmah ini, karena sesungguhnya ilmu merupakan makanan hati, minuman sekaligus obatnya. Hidupnya hati ini tergantung pada suplai ilmu yang masuk padanya. Jika tidak ada ilmu dalam hati, maka matilah hati itu.
Namun sangatlah mengherankan. Masih saja ada orang-orang yang tidak mengindahkan ilmu. Dia justru menghalangi masuknya ilmu pada dirinya dengan kesombongan atau rasa malu yang meliputinya.
Mujahid rahimahullah murid sahabat yang mulia ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu’anhu mengatakan :
لن ينال العلم مستحي ولا مستكبر هذا يمنعه حياؤه من التعلم و هذا يمنعه كبره
“Ilmu tiak akan pernah didapat oleh orang yang malu dan orang yang sombong. Orang yang pertama terhalangi mendapatkan ilmu karena rasa malunya dari belajar sedangkan orang yang kedua terhalang karena kecongkaannya.” (Fathul Bari 1/301)
Orang yang sombong, ketika disodori kebenaran, dia tolak mentah-mentah hanya karena tidak sesuai dengan hawa nafsunya, seleranya, dan adat istiadatnya. Inilah sebenarnya yang dinamakan sombong.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bersabda :
الكبر بطر الحق وغمظ الناس
“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91)
Sebuah syair menggambarkan keadaan orang yang sombong ini: Ilmu akan menjauh dari seseorang yang sombong. Seperti air bah menjauh dari tempat yang tinggi.
Ada orang yang merasa sudah memiliki banyak ilmu sehingga merasa tinggi dihadapan orang yang mangajarnya. Ada orang yang enggan menerima pengajaran atau pengarahan dari orang yang dianggapnya lebih rendah. Ada pula orang yang enggan mengamalkan ilmu agama yang telah diketahuinya. Ini semua semua adalah bentuk-bentuk kesombongan dan tanda bahwa dia akan terhalang dari mendapatkan ilmu. Na’udzu billahi min dzalik !
Itulah kesombongan, satu sifat yang bisa menghalangi seseorang dari ilmu dan kebenaran. Bahkan lebih dari itu, sifat tercela ini juga akan mengakibatkan kemurkaan Allah ta’ala sebagaimana firman-Nya :
"Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri".
Lebih jauh lagi kesombongan akan mendatangkan azab Allah ta’ala di dunia dan di akherat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :
“Tatkala ada seseorang yang melangkah dengan angkuh berjalan dengan mengenakan dua pakaiannya merasa bangga dengan dirinya, Allah ta’ala benamkan dia ke dalam bumi terus menerus masuk ke perut bumi sampai hari kiamat (HR. Bukhari No 5789 dan Muslim no 2088 dan ini lafaz Imam Muslim)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam Ash Shadiqul Masduq (yang sangat jujur dan selalu dibenarkan ucapannya) telah menyampaikan ancaman bagi orang-orang yang sombong;
لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من كبر
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya ada kesombongan sebesar dzarrah” (HR. Muslim No. 91)
Tentu kita tidak ingin merasakan kehinaan dan kesengsaraan abadi seperti ini. Nas ‘alullahas salamah
Begitu pula orang yang diliputi rasa malu yang mengakibatkan meninggalkan maljis ilmu dan enggan belajar ilmu agama. Yang sudah berusia lanjut bisa jadi punya alasan malu karena sudah tua, sudah terlambat sudah terlanjur bodoh. Yan masih belia punya alasan lain, malu dikatakan tidak bergengsi”. Takut dianggap remaja kolot dan “sok alim”, khawatir dijadikan bahan tertawaan dan olok-olokan serta segudang alas an lain. Malu yang tidak pada tempatnya. Orang yang seoerti inipun tidak akan mendapat ilmu.
Senasib dengan orang yang ke dua ini, orang yang menghadapi kesulitan atau ketidak tahuan dalam masalah ibadah, atau dilanda problematika rumah tangga, masalah warisan dan segenap permasalahan yang mendesaknya. Permasalahan-permasalahan yang semestinya ditanyakan pada orang yang mengerti agama. Namun karena malu, dia sembunyikan atau dia tunda-tunda bertanya kahirnya, dia urungkan niatnya untuk bertanya. Akibatnya, dia tidak mendapatkan ilmu untuk menuntaskan kebingungan yang dihadapi karena malu bertanya pada seorang yang mengerti ilmu agama.
Pada asalnya sifat malu adalah sifat yang terpuji. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam pernah bersabda :
الحياء لا ياتي الا بخير
Malu itu tidaklah datang kecuali membawa kebaikan” (HR. Bukhari no. 6117 dan Muslim no.37)
Sebaliknya meninggalkan rasa malu pada asalnya tercela sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam menyatakan dalam sabda beliau :
اذا لم تسحي فا صنع ما شئت
“Apabila engkau tidak punya rasa malu perbuatlah sekehendakmu ! “ (HR. Bukhari 3484)
Dengan demikian, sifat malu merupakan sifat yang terpuji. Namun tidak demikian jika malu itu sampai mencegah seseorang melakukan yang wajib atau sampai menjatuhkan dirinya dalam perkara haram. Kalau sudah demikian keadaannya, maka tercela.
(Syarh Al Arba’in An NAwawiyah, hal 234) Tidak layak kita malu untuk menuntut ilmu. Tidak layak pula malu bertanya tentang sesuatu hal yang penting untuk diamalkan dalam agama ini, walaupun nampaknya merupakan sesuatu yang ‘tabu’. Seperti Ummu Sulaim Radhiallahu ‘anha yang bertanya tentang mandi janabah bagi wanita yang ihtilam (mimpi basah). Ummu Sulaim memulai pertanyaan dengan ucapan :
يا رسول الله ان الله يستحي من الحق
“Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sesungguhnya Allah ta’ala tidaklah malu pada perkara yang benar…”(HR. Bukhari 6121)
“Aisyah pernah memuji wanita Anshar yang datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam untuk bertanya tentang mandinya wanita yang haid, Aisyah mengatakan. “Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak mengahalangi mereka untuk mempelajari dan memahami agama mereka.” (HR. Muslim, no. 332)
Kesombongan dan rasa malu ialah dua hal yang bisa menutup pintu-pintu ilmu yang sangat banyak dan lebar. Akhirnya kita mohon kepada Allah ta’ala agar dijauhkan dari dua sifat ini sehingga kita tidak terhalang dari ilmu yang bermanfaat, disertai permohonan agar Allah ta’ala menambahkan pada kita ilmu yang bermanfaat, sekaligus kemudahan dalam menerima kebenaraan. Amin, Ya Mujibas sailin….Wallahu ta’ala a’lamu bish shawab.
Sumber: Buletin Sil silatul Huda Wan Nur ; Diterbitksn oleh : Ma’had Al-Furqon, Jalan Lawu Kroya Cilacap