WHAT IS KA'BAH (BAITULLAH) ?

Fungsi Ka'bah
وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i`tikaaf, yang ruku` dan yang sujud". Al Baqarah: 125
وَإِذْ بَوَّأْنَا لإبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْقَائِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud. (QS. Al-Hajj: 26)
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكاً وَهُدىً لِلْعَالَمِينَ
َSesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. (QS. Ali Imran: 96)
فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.(QS. Ali Imran: 97)
Muslim Tidak Menyembah Ka'bah

Pemahaman Mendasar
Quran Al Ikhlas ayat 1-4 :
-
Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa,
-
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
-
Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan,
-
dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia".
Hal ini sudah diantisipasi dan ditegaskan dalam Al Hajj : 26
"Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): "Janganlah kamu memperserikatkan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang tawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang rukuk dan sujud. (QS. Al-Hajj: 26)
Ka'bah adalah rumah Allah swt yang mulia dan suci. Pusat energi kesucian lahir dan batin. Ka'bah terjaga dari segala bentuk kemusyrikan, kezaliman dan kehinaan. Terjaga dari kemusyrikan akidah, pemikiran, ibadah, dan ruhani.
Sebagai pusat energi kesucian Ka'bah selalu terjaga dari segala kemusyrikan dan kehinaan lahir dan batin. Karena itu Allah swt memerintahkan kepada kekasih-Nya Ibrahim dan Ismail a.s. agar menjaga Ka'bah dari segala bentuk kemusyikan, najis dan kehinaan.
Sejarah Arah Kiblat
Arah Kiblat ke Baitul Maqdis

Selepas beberapa lama tinggal di Madinah, sekitar enam belas atau tujuh belas bulan kehijrahan Rasulullah ke Kota Suci itu, beliau bersama kaum Muslim melaksanakan shalat dengan menghadap ke arah Bait Al-Maqdis. salah satu kota suci kaum Muslim ini juga disebut Al-Quds. Seperti diketahui, kota di Palestina ini mulai menjadi kota suci khususnya setelah Sulaiman a.s., putra Daud a.s., salah seorang keturunan Ibrahim a.s., membangun Haikal Sulaiman (atau Kuil Sulaiman). Sepeninggal Sulaiman a.s., kota ini ditaklukkan orang-orang Assyria. Selanjutnya, kota ini secara berturut-turut jatuh ke tangan Babilonia, Persia, Romawi, dan kaum Muslim sejak masa pemerintahan ‘Umar bin Al-Khaththab (15 H/636 M).
Kedudukan Bait Al-Maqdis sebagai kota suci tercermin dari berbagai penegasan dalam Al-Quran. Selain kisah Isra’ yang terkenal, kedudukan Bait Al-Maqdis sebagai kota suci Islam tersimpulkan dari hakikat wahyu Allah kepada Rasul Saw. sebagai bagian dari rentetan wahyu-wahyu Ilahi sebelumnya, baik untuk mengembangkan, mengoreksi, atau pun mengganti.
Firman Allah dalam Surah An-Nisa (4) ayat 163-164
إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَعِيسَى وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ وَآتَيْنَا دَاوُدَ زَبُورًا
"Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, Isa, Ayub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud." An-Nisa (4) ayat 163.
وَرُسُلا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا
Dan (kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. An-Nisa (4) ayat 164.
Tokoh-tokoh yang disebutkan dalam firman tersebut, selain Nuh a.s., sangat erat terkait dengan kota ini yang menjadi pusat agama Yahudi dan Kristen.
Arah Kiblat Ke Makkah
Namun, pada suatu hari di bulan Rajab 2 H/Januari 624 M, ketika Rasulullah Saw. sedang melaksanakan rakaat kedua shalat asar di Masjid Bani Salamah, beliau menerima wahyu yang memerintahkan untuk menghadap ke arah Ka‘bah ketika shalat.
قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
“Sungguh, Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit. Maka, sungguh Kami akan mengalihkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Alihkanlah mukamu ke arah Masjid Al-Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan, sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjid Al-Haram benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan (QS Al-Baqarah [2]: 144).”
Betapa gembiranya Rasulullah Saw. dan kaum Muslim menerima perintah yang demikian. Karena itu, begitu usai shalat, ada seorang sahabat yang dengan penuh semangat keluar dari masjid dan berseru gembira, “Demi Allah, aku bersumpah, aku telah melaksanakan shalat bersama Rasulullah Saw. dengan menghadap ke arah Makkah!”
Tujuan utama perubahan kiblat itu sendiri ialah agar kaum Muslim, sebagai satu umat yang memiliki Ka‘bah yang menjadi pusat rohaniah mereka, mengarahkan dunia dalam kebaikan yang besar. Selain itu sebagai ungkapan bahwa kaum Muslim bukan suatu umat yang berasaskan ras atau warna kulit, melainkan suatu umat untuk meraih kebaikan dengan menyebarkan kebaikan. Walau terjadi perubahan tersebut, namun sunnah Rasul Saw. tidak pernah melupakan kiblat pertama. Sebab, Bait Al-Maqdis telah dijadikan sebagai ujung akhir pelaksanaan Isra’ dan Mi‘raj Nabi Saw. yang diawali dari Makkah. Dan dari kota itu pulalah beliau bermi‘raj ke langit tertinggi. Karena itu, Bait Al-Maqdis dipandang sebagai kota suci ketiga dalam Islam setelah Makkah dan Madinah.
Segera kabar pengalihan arah shalat tersebut tersebar ke seluruh penjuru Madinah. Kaum Muslim pun segera pula mengalihkan arah mereka ketika melaksanakan shalat. Mereka tidak lagi menghadap ke arah Bait Al-Maqdis, tetapi menghadap ke arah Makkah.
Di sisi lain, kiblat sejatinya merupakan suatu gejala ibadah unik yang hanya dimiliki kaum Muslim saja. Tidak oleh umat-umat lainnya. Sebab, seperti diketahui, para pemeluk agama-agama lain melaksanakan peribadatan mereka ke arah manapun yang mereka kehendaki dan mereka mendirikan tempat-tempat peribadatan mereka selaras dengan pengetahuan teknik mereka dan tuntutan yang ada. Beberapa orientalis berpandangan, Islam mengambil pedoman tentang kiblat dari agama Yahudi atau Kristen awal. Menurut beberapa orientalis Yahudi, kiblat merupakan hal yang telah mereka kenal, yaitu tempat menyimpan catatan-catatan dan kitab-kitab keagamaan, dan tempat yang paling baik bagi catatan-catatan dan kitab-kitab tersebut adalah sinagog. Sebagian di antara mereka berpendapat, tempat dimaksud dikemukakan dalam Al-Quran dengan sebutan “tabut” dalam Q.S. Al-Baqarah (2) ayat 248.
Pendapat yang demikian itu, antara lain dikemukakan oleh Abraham Geiger, Edward Hirschfeld, dan Jakob Horowitz, tidak lah memiliki pijakan yang kuat. Sebab, tempat penyimpanan di sinagog tersebut tidak menentukan arah. Orang-orang pun tidak bersembahyang ke arah tempat itu. Lagi pula, tempat itu hanya sekadar tempat atau kotak untuk meletakkan kitab-kitab keagamaan mereka dan apa-apa yang mereka pandang sebagai khazanah sinagog, seperti peninggalan orang-orang saleh di kalangan mereka, naskah kitab-kitab persembahyangan mereka, tulisan orang-orang saleh di kalangan mereka, dan harta kekayaan yang diserahkan pada sinagog. Semua itu diletakkan di jantung sinagog, ke manapun arah jantung sinagog tersebut. Selain itu, “tabut” yang dikemukakan dalam Al-Quran tidaklah serupa dengan tempat menyimpan kitab-kitab keagamaan dan peninggalan-peninggalan awal agama Yahudi. Namun, “tabut” tersebut adalah sesuatu yang lain yang berkaitan dengan Musa a.s. dan masanya. Mengenai “tabut” tersebut, para ahli tafsir pun tidak seiring pendapat tentang yang dimaksud dengannya. Meski demikian, dapat dipastikan, hal itu tidaklah seperti yang dikehendaki para orientalis Yahudi tersebut.
Sementara beberapa peneliti lain menyatakan, gereja-gereja awal–paling tidak gereja-gereja beberapa jemaat-menghadap ke arah timur dan arah itulah asal-usul pengertian kiblat dalam Islam. Pendapat yang demikian itu jelas lemah dan tidak berdasar pula. Sebab, tiada bukti yang kuat pernah ada sebuah sekte Kristen awal yang menjadikan arah timur sebagian kiblat mereka. Memang, hal ini tidak meniadakan pendapat bahwa beberapa kepercayaan bukan samawi (dari langit) menganjurkan para pengikutnya untuk menyambut terbitnya matahari dengan bersembahyang pada pagi hari, juga pada sore hari ketika matahari terbenam. Di antara kepercayaan-kepercayaan tersebut ialah penyembahan matahari yang dianut Amenophis IV, yaitu Fir‘aun yang dikenal dengan nama Ikhnaton. Arah yang demikian itu jelas berbeda sekali dengan pengertian kiblat dalam Islam.
Dalam kenyataannya, kiblat merupakan suatu konsepsi Islam murni yang tidak dikenal baik oleh agama Yahudi maupun Kristen. Karena itu, tidak mengherankan pula jika kadang kaum Muslim menyebut diri mereka sebagai warga kiblat (Ahl Al-Qiblah), yang berarti warga dengan pandangan yang satu. Dan, Mahasuci Ia Yang telah menjadikan Islam sebagai akidah kesatuan dan penyatuan. Dan yang penting dalam hal ini ialah kiblat mengukuhkan secara mendasar salah satu pengertian Islam dan melengkapi masjid dengan suatu keistimewaan unik yang tidak dimiliki tempat-tempat ibadah lainnya.
Kisah Ka'bah
1. Pendirian Ka'bah
Para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan pada zaman apa Ka'bah dibangun. Di antaranya ada dua pendapat besar yang berkembang.
a. Pendapat Pertama
Menurut pendapat ini Ka'bah baru dibangun oleh nabi Ibrahim alaihissalam. Pendapat ini disampaikan oleh Ibnu Katsir dengan landasan riwayat dari Ibnu Abbas ra, "Seandainya manusia tidak berhaji ke rumah ini (ka'bah), maka Allah tumbukkan langit dengan bumi."
Selain itu juga dengan dalil ayat-ayat berikut ini:
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui" (QS. Al-Baqarah: 127)
b. Pendapat Kedua
Pendapat kedua mengatakan bahwa Ka'bah sudah berdiri jauh sebelum zaman nabi Ibrahim, yaitu sejak zaman nabi Adam alaihissalam. Bahkan ketika Adam turun ke muka bumi, Ka'bah sudah berdiri tegak dibangun oleh para malaikat. Ka'bah memang didirikan untuk Adam melakukan ibadah kepada Allah SWT di bumi.
Keterangan ini mereka dapat dari hadits dalam kitab Ad-Dalail yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari shahabat Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu secara marfu'. Dan di dalamnya terkandung kisah tentang pembangunan Ka'bah di sejak masa nabi Adam. Namun secara sanad, periwayatan haditsi ini secara sendirian lemah (dhaif).
Maka hadits ini dikuat dengan riwayat dari jalur lainnya, yaitu apa yang diriwayatkan secara mauquf dari Ibnu Abbas ra. sebagaimana yang ada pada Al-Azraqi, Abu Syaikh dan Ibnu Asakir. Pendapat ini manqul dari Muhammad bin Kaab Al-Qurazhi dan 'Atho dan lainnya. Az-Zarqani merajihkan hadits-haditsnya sebagaimana beliau tulis dalam kitab syarahnya pada kitab Al-Muwaththa'. Di sana beliau menuliskan, "Semua riwayat ini saling menguatkan satu dengan yang lainnya."
2. Sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Mendirikan Ka’bah
a. Perintah
Allah subhanahu wata’ala telah memerintahkan Nabi Ibrahim ‘alaihi salam untuk membangun Baitul ‘Atiq, yaitu masjid yang diperuntukkan bagi manusia untuk mereka menyembah Allah subhanahu wa ta’ala.
Allah kemudian menunjukkan kepada Nabi Ibrahim, di mana hendaknya bangunan tersebut dibangun. Allah menunjuki Nabi Ibrahim lewat wahyu yang diturunkan kepadanya.
b. Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
Nabi Ibrahim ‘alahi salam membawa istrinya Hajar dan putra beliau Ismail ke daerah Makkah. Pada saat itu, Hajar dalam keadaan menyusui putranya.
Nabi Ibrahim kemudian menempatkan Hajar dan Ismail ke sebuah tempat di samping pohon besar. Pada saat itu, di tempat tersebut tidaklah terdapat seorang pun dan tidak pula ada air. Nabi Ibrahim kemudian meninggalkan keduanya beserta geribah yang di dalamnya terdapat kurma, serta bejana yang berisi air.
Ketika Nabi Ibrahim hendak pergi, Hajar mengikuti beliau seraya bertanya, “Wahai Ibrahim, ke manakah engkau akan pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami padahal di lembah ini tidak terdapat seorang pun dan tidak ada makanan apa pun?”
Hajar mengucapkannya berkali-kali, namun Nabi Ibrahim tidak menghiraukannya. Hajar kemudian bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkan engkau berbuat ini?” Nabi Ibrahim kemudian menjawab, “Iya.” Hajar lalu berkata, “Dia tidak akan membiarkan kami.” Hajar kemudian kembali.
Di daerah Tsaniah, ketika sosok beliau hilang dari pandangan keluarga yang beliau tinggalkan, Nabi Ibrahim berdoa,
“Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Rabb Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”
Ketika persedian air mereka habis, Hajar pun mencari air untuk dia dan putranya. Dia pergi ke bukit Shafa, mencari-cari adakah orang di sana, namun dia tidak menemukan siapa pun di sana.
Hajar pun kemudian pergi ke Marwah dan mencari-cari orang pula di sana. Dia juga tidak mendapati seorang pun.
Hajar berulang-ulang pergi dari Shafa ke Marwah, sebaliknya dari Marwah ke Shafa sampai tujuh kali. Oleh karena itu, di dalam ibadah haji ada yang namanya Sai, yaitu berlari-lari kecil dari Shafa ke Marwa dan sebaliknya sampai tujuh kali.
Sampai ke Marwah, Hajar mendengar suara. Lalu dia berkata, “Diamlah”. Dia mendengar suara itu, lalu mencari sumber suara itu dan berkata, “Aku telah mendengarmu, apakah engkau dapat memberikan bantuan?”
Ternyata dia berada bersama malaikat di tempat di mana terdapat air zam-zam. Lalu, malaikat itu mengais-ngais tanah hingga akhirnya muncul air. Selanjutnya, ia pun menuruni air tersebut, mengisi bejananya dan kembali ke putranya Ismail, kemudian menyusuinya.
Malaikat lalu berkata kepada Hajar, “Janganlah engkau takut disia-siakan, karena di sini akan dibangun sebuah rumah oleh anak ini dan bapaknya. Dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan keluarganya”
Setelah beberapa waktu berlalu, serombongan suku Jurhum datang ke tempat tersebut dan tinggal di sekitar air zam-zam bersama Hajar dan Ismail. Ini semua mereka lakukan atas izin dari Hajar.
Nabi Isma'il dan isterinya yang tidak shaleh dan yang shaleh
Nabi Ismail pun beranjak dewasa dan belajar Bahasa Arab dari Suku Jurhum tersebut. Beliau juga menikah dengan salah seorang wanita mereka. Diceritakan pula bahwa Hajar kemudian meninggal dunia.
Pada suatu saat, Nabi Ibrahim datang ingin menjenguk Nabi Ismail ‘alaihimassalam. Namun, beliau hanya menemui istri Nabi Ismail saja.
Nabi Ibrahim bertanya kepada wanita tersebut ke mana kiranya Nabi Ismail pergi. Istrinya menjawab, “Dia sedang mencari nafkah untuk kami.”
Nabi Ibrahim lalu bertanya tentang keadaan mereka. Istri Nabi Ismail menjawab, “Kami dalam kondisi yang jelek dan hidup dalam kesempitan dan kemiskinan.”
Mendengar jawaban tersebut, sebelum pulang Nabi Ibrahim berpesan kepada wanita itu untuk menyampaikan salam kepada Nabi Ismail dan berpesan agar Nabi Ismail mengganti pegangan pintunya.
Setelah Nabi Ismail kembali ke rumah, istrinya pun menceritakan peristiwa tadi dan menyampaikan pesan Nabi Ibrahim kepada suaminya.
Mendengar hal tersebut, Nabi Ismail pun berkata kepada istrinya, “Itu tadi adalah bapakku. Ia menyuruhku untuk menceraikanmu, maka kembalilah engkau kepada orang tuamu.” Nabi Ismail pun menceraikan istrinya tadi sesuai dengan pesan Nabi Ibrahim dan kemudian menikah lagi dengan seorang wanita dari Bani Jurhum juga.
Setelah beberapa waktu berlalu, Nabi Ibrahim kemudian kembali mengunjungi Nabi Ismail. Namun, Nabi Ismail tidak ada di rumah. Nabi Ibrahim pun menemui istri Nabi Ismail yang baru.
Beliau bertanya dimana Nabi Ismail sekarang. Istrinya menjawab bahwa Nabi Ismail sedang mencari nafkah. Nabi Ibrahim juga bertanya tentang keadaan mereka. Wanita itu menjawab bahwa keadaan mereka baik-baik saja dan berkecukupan, sambil kemudian memuji Allah azza wa jalla.
Nabi Ibrahim lalu bertanya tentang makanan serta minuman mereka. Wanita itu menjawab bahwa makanan mereka adalah daging, adapun minuman mereka adalah air. Maka Nabi Ibrahim mendoakan kedua hal ini, “Ya Allah berkatilah mereka pada daging dan air.”
Setelah itu, Nabi Ibrahim pun pergi dari rumah Nabi Ismail. Namun, sebelumnya beliau berpesan kepada wanita itu agar Nabi Ismail memperkokoh pegangan pintunya. Ketika Nabi Ismail pulang, beliau bertanya kepada istrinya, “Adakah tadi orang yang bertamu?”
Istrinya menjawab, “Ada, seorang tua yang berpenampilan bagus.” Dia memuji Nabi Ibrahim.
“Ia bertanya kepadaku tentang dirimu, maka aku jelaskan keadaanmu kepadanya. Dia juga bertanya tentang kehidupan kita, dan aku jawab bahwa kehidupan kita baik-baik saja.”
Nabi Ismail kemudian bertanya, “Apakah dia memesankan sesuatu kepadamu?”
Istrinya kembali menjawab, “Ya. Ia menyampaikan salam kepadamu dan menyuruhku mengokohkan pegangan pintumu.”
Nabi Ismail berkata, “Itu adalah ayahku dan engkau adalah pegangan pintu tersebut. Beliau menyuruhku untuk tetap menikahimu (menjagamu).”
Waktu pun berlalu. Suatu saat ketika Nabi Ismail sedang meraut anak panah, Nabi Ibrahim pun datang. Nabi Ismail pun bangkit menyambutnya, dan mereka pun saling melepaskan rindu.
Selanjutnya, Nabi Ibrahim berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya Allah menyuruhku menjalankan perintah.”
Ismail menjawab, “Lakukanlah apa yang diperintahkan Rabbmu.”
“Apakah engkau akan membantuku?”, Tanya Nabi Ibrahim kembali.
“Aku pasti akan membantumu.” seru Ismail.
Nabi Ibrahim kemudian menunjuk ke tumpukan tanah yang lebih tinggi dari yang sekitarnya. Beliau berkata, “Sesungguhnya Allah menyuruhku membuat suatu rumah di sini.”
Pada saat itulah, keduanya kemudian meninggikan pondasi Baitullah. Ismail mulai mengangkut batu, sementara Ibrahim memasangnya.
Setelah bangunan tinggi, Ismail membawakan sebuah batu untuk menjadi pijakan bagi Nabi Ibrahim. Batu inilah yang akhirnya disebut sebagai maqam (tempat berdiri) Nabi Ibrahim.
Mereka pun terus bekerja sembari mengucapkan doa, “Wahai Rabb kami terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”. Sampai akhirnya tuntaslah pembangunan baitullah itu. Ka’bah pun akhirnya berdiri di bumi Allah ‘azza wa jalla.
c. Hajar Aswad

Yang pertama kali meletakkan Hajar Aswad adalah Nabi Ibrahim as. dan batu itu adalah permata yang berasal dari Surga. Hajar Aswad berarti batu hitam. Batu itu kini ada di salah satu sudut Ka`bah yang mulia yaitu di sebelah tenggaradan menjadi tempat start dan finish untuk melakukan ibadah tawaf di sekeliling Ka`bah.
Diletakkan dalam bingkai dan pada posisi 1,5 meter dari atas permukaan tanah. Batu yang berbentuk bulat telur dengan warna hitam kemerah-merahan. Di dalamnya ada titik-titik merah campur kuning sebanyak 30 buah. Dibingkai dengan perak setebal 10 cm buatan Abdullah bin Zubair, seorang shahabat Rasulullah SAW.
Batu ini asalnya dari surga sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh sejumlah ulama hadis.
Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Hajar Aswad turun dari surga berwarna lebih putih dari susu lalu berubah warnanya jadi hitam akibat dosa-dosa bani Adam." (HR. Timirzi, An-Nasa`I, Ahmad, Ibnu Khuzaemah dan Al-Baihaqi).
Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW bersada, ”Demi Allah, Allah akan membangkit hajar Aswad ini pada hari qiyamat dengan memiliki dua mata yang dapat melihat dan lidah yang dapat berbicara. Dia akan memberikan kesaksian kepada siapa yang pernah mengusapnya dengan hak.” (HR. Tirmizy, Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darimi, Ibnu Khuzaemah, Ibnu Hibban, At-Tabrani, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Al-Asbahani).
At-Tirmizi mengatakan bahwa hadits ini hadits hasan. Sedangkan Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dalam kitab Shahihul Jami` no. 2180, 5222 dan 6975.
Dari Abdullah bin Amru berkata, ”Malaikat Jibril telah membawa Hajar Aswad dari surga lalu meletakkannya di tempat yang kamu lihat sekarang ini. Kamu tetap akan berada dalam kebaikan selama Hajar Aswad itu ada. Nikmatilah batu itu selama kamu masih mampu menikmatinya. Karena akan tiba saat di mana Jibril datang kembali untuk membawa batu tersebut ke tempat semula.” (HR. Al-Azraqy).
Mencium Hajar Aswad ?
Bagaimanapun juga Hajarul Aswad adalah batu biasa, meskipun banyak kaum muslimin yang menciumnya atau menyentuhnya, hal tersebut hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Umar bin Al-Khattab berkata, “Demi Allah, aku benar-benar mengetahui bahwa engkau adalah batu yang tidak bisa memberi madharat maupun manfaat. Kalalulah aku tidak melihat Rasulullah SAW menciummu aku pun tidak akan melakukannya.”
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas: Nabi mengerjakan Tawaf mengelilingi Ka’bah dengan menunggang seekor unta pada ibadah haji terakhir dan menyentuh hajar aswad dengan tongkatnya. (Sahih Bukhari juz 2 no 677).
Dengan demikian nyatalah bahwa Hajar Aswad itu hanyalah batu yang tidak dapat mendatangkan celaka atau tidak dapat mendatangkan untung kecuali dengan ijin Allah swt.
d. Kisah Penyerangan Raja Abrahah dan Tentara Bergajah
Setelah Abrahah membangun sebuah gereja bernama Qalis yang belum ada tandingannya pada zaman itu di San'a, dia menulis surat kepada Raja Najasyi (Negus Negusi) berisi: "Sesungguhnya aku telah membangun sebuah gereja untukmu yang belum pernah dibangun semegah itu untuk raja sebelum kamu. Aku belum puas sebelum aku berhasil mengalihkan tujuan haji orang Arab." Ketika surat Abrahah buat Raja Najasyi tersebut menjadi pembicaraan orang-orang Arab, maka salah seorang dari suku Kinanah marah dan pergi menuju gereja Qalis, kemudian buang air besar di dalam gereja tersebut tanpa ada yang mengetahui kemudian kembali ke rumahnya.
Kejadian itu didengar oleh Abrahah, iapun marah dan bersumpah akan menyerang Baitullah sampai hancur. Beliau memerintahkan tentara Abessinia untuk bersiap-siap. Dia berangkat menunggang gajah. Ketika orang-orang Arab mendengaar keinginan Abrahah untuk menghancurkan Kakbah, mereka merasa takut. Abrahah mengutus seorang laki-laki dari Abessinia bernama Aswad bin Mafsud beserta pasukan berkuda. Ketika sampai di Mekah ia meminta tebusan harta dari suku Quraisy dan suku lainnya. Abdul Mutalib bin Hasyim kehilangan 200 unta. Saat itu dia adalah pemuka Quraisy dan tokohnya. Suku Quraisy, suku Kinanah, suku Huzail dan suku-suku yang bertetangga dengan tanah Haram mengetahui bahwa mereka harus melawannya. Kemudian mereka menyadari bahwa mereka tidak akan mampu menghadapi pasukan tersebut. Mereka menyerahkan urusan tersebut.
Abrahah juga mengutus Hanathah Humairi ke Mekah. Ia diperintahkan untuk mencari siapa pemuka dan tokoh penduduk tanah Haram, lalu katakan: Sesungguhnya raja berkata, "Sesungguhnya aku tidak datang untuk memerangi kalian, tetapi aku datang untuk menghancurkan Baitullah. Jika kalian tidak menghalangi kami, maka kami tidak akan memerangi kalian, jika dia tidak ingin berperang denganku, maka ajaklah dia ke sini." Ketika Hanatah masuk Mekah untuk menjumpai tokoh Quraisy bernama Abdul Mutalib bin Hasyim, dia berkata kepada Abdul Mutalib seperti yang diperintahkan Abrahah.
Abdul Mutalib bin Hasyim berkata, "Demi Allah, kami tidak akan melawannya dan kami tidak mempunyai kekuatan untuk mempertahankan Rumah Allah dan Rumah Khalilullah (Nabi Ibrahim as.). Jika Allah ingin mencegahnya, maka rumah ini adalah rumah-Nya dan jika Dia membiarkannya, maka masalah ini adalah urusan-Nya dan urusan Abrahah.
Demi Allah, kami tidak mempunyai kekuatan untuk mempertahankannya." Kemudian Hanatah berkata, "Kalau demikian ikutlah bersamaku menjumpainya karena ia memerintahkan aku untuk mengajakmu." Hanatah berangkat bersama Abdul Mutalib bin Hasyim dan beberapa anaknya hingga tiba di Askar. Kemudian Abdul Mutalib mencari temannya, Dzu Nafar --sampai ia masuk dan Dzu Nafar masih dalam penjara-- ia berkata, "Wahai Dzu Nafar! Apakah engkau dapat membantu kami?" Dzu Nafar menjawab, "Bantuan apa yang dapat diberikan seorang tawanan raja yang hanya menunggu kapan akan dibunuh, pagi atau siang? Aku tidak dapat membantu kamu, kecuali aku akan menunjukkan temanku bernama Anis, seorang pengembala gajah. Aku akan antarkan kamu kepadanya dan aku akan memesan kepadanya agar ia membantu kamu. Mintalah kepadanya agar diizinkan untuk menjumpai raja, lalu ceritakan keperluanmu, dia akan memudahkan urusanmu di hadapan raja, jika dia mampu." Abdul Mutalib berkata, "Sudah cukup buatku.
Kemudian Dzu Nafar mengantarkannya ke Anis dan ia berkata kepada Anis, "Sesungguhnya Abdul Mutalib adalah tokoh dan pemuka suku Quraisy dan pemilik mata air Mekah yang memberi makan orang yang tinggal di lereng ataupun di atas-atas bukit, dia telah kehilangan 200 ekor unta. Mintakan izin buat dia untuk menghadap raja dan bantulah dia di hadapan raja semampumu." Dia berkata, "Aku akan lakukan." Kemudian Anis berkata kepada Abrahah, "Wahai raja! Ini ada seorang pemuka suku Quraisy di pintu meminta izin untuk menjumpaimu. Dia adalah pemilik mata air di Mekah, dialah yang memberi makan orang banyak, baik yang tinggal di lereng atau di atas gunung, izinkanlah dia bertemu denganmu untuk membicarakan suatu keperluan." Kemudian Abrahah mengizinkannya masuk.
Abdul Mutalib adalah orang yang gagah, mulia dan ganteng. Ketika Abrahah melihatnya, ia memuliakan dan menghormatinya dan mempersilahkan duduk di bawah. Raja Habsyah tidak senang melihatnya duduk di singgasana kerajaannya, maka Abrahah turun dan duduk di permadani, duduk berdampingan dengan Abdul Mutalib. Kemudian ia berkata kepada penterjemahnya agar menanyakan kepada Abdul Mutalib, apa keperluan kamu? Penterjemah itu bertanya kepada Abdul Mutalib, Abdul Mutalib menjawab, "Aku ingin agar raja mengembalikan unta-untaku sebanyak 200 ekor yang telah diambil." Ketika dikatakan demikian, Abrahah berkata kepada penterjemahnya agar mengatakan kepadanya, "Penampilan Anda membuatku kagum ketika pertama bertemu, tetapi kekaguman itu telah hilang ketika Anda berbicara demikian kepadaku. Apakah Anda hanya menanyakan tentang 200 unta milik Anda dan meninggalkan perkara Rumah Tua itu (Kakbah). Bukankah ia adalah agama kamu dan agama nenek moyang kamu? Sesungguhnya aku datang akan menghancurkannya, kenapa Anda tidak membicarakan masalah tersebut?" Abdul Mutalib berkata, "Sesungguhnya aku ini hanyalah pemilik unta-unta sedangkan Kakbah itu mempunyai Pemilik yang akan menjaganya." Abrahah berkata, "Tidak ada yang akan menghalangiku." Abdul Mutalib berkata, "Kalau demikian terserah Anda. Kemudian unta-unta Abdul Mutalib dikembalikan.
Abdul Mutalib kembali ke suku Quraisy dan menceritakan pertemuannya dengan Abrahah kepada mereka. Beliau memerintahkan orang-orang Quraisy untuk keluar dari Mekah dan berlindung di atas-atas gunung. Abdul Mutalib bangkit dan mengunci pintu Kabah. Bersama dengan beberapa orang Quraisy, beliau berdoa kepada Allah Taala agar dapat mengalahkan Abrahah dan tentaranya. Pagi harinya, Abrahah dan tentaranya telah bersiap untuk memasuki Mekah dengan menunggang gajah bernama Mahmud.
Ketika mereka bergerak menuju Mekah, mereka bertemu dengan Nufail bin Habib. Ia menghampiri gajah kemudian memegang kupingnya dan berkata, "Duduklah dan kembalilah ke tempatmu, sesungguhnya kamu berada di negeri Haram." Dia melepaskan kuping gajah itu dan gajah itupun duduk berlutut.
Tentara Abrahah memukul gajah tersebut agar bangun, tetapi ia enggan. Mereka menghadapkannya ke Yaman, maka gajah itu bangkit berjalan menuju Yaman. Mereka mengarahkannya ke Syam, gajah itu menurut..
Mereka menghadapkannya ke Masyrik, gajah itu menurut, mereka menghadapkan ke Mekah, gajah itu duduk berlutut. Allah mengutus kepada mereka sekumpulan burung dari arah laut seperti burung layang-layang dan burung bangau, masing-masing membawa tiga butir batu, sebutir di paruhnya dan dua butir di kedua kakinya. Batu tersebut sebesar kacang humush dan kacang adas. Tidak ada yang terkena batu tersebut kecuali ia binasa. Tidak semuanya terkena lontaran batu tersebut. Mereka akhirnya keluar Mekah. Di tengah jalan mereka berjatuhan dan mati dalam keadaan yang mengerikan. Abrahah terkena lontaran batu tersebut, tentaranya membawa ia keluar Mekah dengan jari-jari terputus hingga tiba di Shan'a. Di sana ia meninggal.
3. Keikutasertaan Nabi saw Dalam Membangun Ka’bah
Ka’bah adalah "rumah” yang pertama kali dibangun atas nama Allah, untuk menyembah Allah dan mentauhidkan-Nya. Dibangun oleh bapak para Nabi, Ibrahim as, setelah menghadapi "perang berhala" dan penghancuran tempat-tempat peribadatan yang didirikan atasnya. Ibrahim as membangunnya berdasarkan wahyu dan perintah dari Allah swt :
"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah beserta Isma’il (seraya berdo’a) "Ya Rabb kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” QS al-Baqarah : 127
Setelah itu Ka’bah mengalami beberapa kali serangan yang mengakibatkan kerapuhan bangunannya. Di antaranya adalah serangan banjir yang menenggelamkan Mekkah beberapa tahun sebelum bi’tsah, sehingga menambah kerapuhan bangunannya. Hal ini memaksa orang-orang Quraisy harus membangun Ka’bah kembali demi menjaga kehormatan dan kesucian bangunannya. Penghormatan dan pengagungan terhadap Ka’bah merupakan sisa atau peninggalan syari’at Ibrahim as yang masih terpelihara di kalangan orang Arab.
Rasulullah saw sebelum bi’tsah pernah ikut serta dalam pembangungan Ka’bah dan pemugarannya. Beliau ikut serta secara aktif mengusung batu di atas pundaknya. Pada waktu itu Rasulullah saw berusia 35 tahun, menurut riwayat yang paling shahih.
Bukhari meriwayatkan di dalam Shahih-nya dari hadits Jabir bin Abdullah r.a. ia berkata : “Ketika Ka’bah dibangun, Nabi saw dan Abbas pergi mengusung batu. Abbas berkata kepada Nabi saw, “Singsingkan kainmu di atas lutut.” Kemudian Nabi saw turun ke tanah, sedang kedua matanya melihat-lihat ke atas seraya berkata : “Mana kainku?” Lalu Nabi saw mengikatkannya.
Nabi saw memiliki pengaruh besar dalam menyelesaikan kemelut yang timbul akibat perselisihan dalam menyelesaikan tentang siapa yang berhak mendapatkan kehormatan meletakkan hajar aswad di tempatnya. Semua pihak tunduk kepada usulan yang diajukan Nabi saw, karena mereka semua mengenalnya sebagai al-amin (terpercaya) dan mencintainya.
Beberapa Ibrah
Sebagai catatan terhadap bagian Sirah Nabi saw ini kami kemukakan empat hal : Pertama, urgensi, kemuliaan, dan kekudusan Ka’bah ynag telah ditetapkan Allah. Cukuplah sebagai dalilnya, bahwa orang yang mendirikan dan membangunnya adalah Ibrahim kekasih Allah, dengan perintah dari Allah supaya menjadi rumah yang pertama untuk menyembah Allah semata, sebagai tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia.
Tetapi, ini tidak berarti bahwa Ka’bah memiliki pengaruh terhadap orang-orang yang thawaf di sekitarnya, atau orang-orang yang iktikaf di dalamnya Ka’bah, kendatipun memiliki kekudusan dan kedudukan di sisi Allah. Adalah batu yang tidak dapat memberikan bahaya dan manfaat.
Ketika Allah mengutus Ibrahim as utuk meruntuhkan berhala-berhala dan para Thogut, menghancurkan rumah-rumah peribadatan, melenyapkan rambu-rambunya dan menghapuskan penyembahannya, Allah menghendaki agar dibangun di atas bumi ini suatu bangunan yang akan menjadi lambang pentauhidan dan penyembahan kepada Allah semata. Suatu lambang yang mencerminkan sepanjang masa arti agama dan peribadatan yang benar, dan penolakan terhadap kemusyrikan dan penyembahan berhala. Selama beberapa abad manusia menyembah batu-batu, berhala dan para Thogut, dan mendirikan rumah-rumah ibadah untuknya. Sekarang telah tiba saaatnya untuk mengganti rumah-rumah yang didirikan untuk menyembah Allah semata. Setiap orang yang memasukinya akan mendapatkan kemuliaannya, karena ia tidak tunduk dan merendah kecuali hanya kepada Pencipta alam semesta.
Jika orang-orang yang beriman kepada wahdaniyah (keesaan) Allah dan para pemeluk agama-Nya harus memiliki ikatan yang akan mempertalikan mereka, dan sebuah tempat yang akan mempertemukan mereka, kendatipun berlainan negeri, bangsa, dan bahasa mereka. Maka tidak ada yang lebih tepat untuk dijadikan ikatan dan tempat pertemuan itu selain dari rumah yang didirikan sebagai lambang untuk mentauhidkan Allah dan menolak kemusyrikan ini. Di bawah naungannya mereka saling berkenalan. Di sinilah mereka bertemu karena panggilan kebenaran yang dilambangkan oleh rumah ini. Rumah ynag mencerminkan persatuan kaum Muslim di seluruh penjuru dunia, mencerminkan pentauhidan dan penyembahan hanya kepada Allah semata. Kendatipun selama beberapa abad pernah dijadikan tempat penyembahan tuhan-tuhan palsu.
Inilah yang dimaksudkan oleh firman Allah :
"Dan (ingatlah), ketika Kami jadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadilah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat.” QS al-Baqarah : 125
Makna inilah yang akan dirasakan oleh setiap orang yang melakukan thawaf di Baitul - Haram, jika ia telah memahami arti ‘ubudiyah kepada Allah dan tujuan melaksanakan perintah-perintah-Nya, baik karena sebagai perintah ynag harus dilaksanakan ataupun karena sebagai seorang hamba ynag berkewajiban mematuhi perintah. Di sinilah nampak kekudusan Ka’bah dan keagungan kedudukannya di sisi Allah. Dari sini pula terasa perlunya menunaikan haji dan thawaf di sekitarnya. Kedua, penjelasan menyangkut beberapa kali peristiwa perusakan dan pembangungan Ka’bah.
Sepanjang masa, Ka’bah pernah di bangun empat kali tanpa diragukan lagi. Akan halnya pembangunan Ka’bah sebelum itu, maka masih diperselisihkan dan diragukan kebenarannya.
Pembangunan Ka’bah yang pertama kali adalah yang dilakukan oleh Ibrahim as dibantu anaknya Isma’il as, atas perintah Allah swt, sebagaimana dinyatakan secara tegas oleh al-Quran dan Sunnah yang shahih :
Firman Allah: "Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah beserta Isma’il (seraya berdoa) "Ya Rabb kami, terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” QS Al-Baqarah : 127
Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas r.a. :
...kemudian (Ibrahim) berkata : "Hai Isma’il, sesungguhnya Allah memerintahkan aku (untuk melakukan) sesuatu perkara.” Isma’il berkata, “Lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Rabbmu.” Ibrahim bertanya, “Kamu akan membantuku?” Isma’il menjawab, “Aku akan membantumu.” Ibrahim berkata,” Sesungguhnya Allah memerintahkan aku agar aku membangun rumah (Ka’bah) di sini,” seraya menunjuk ke bukit di sekitarnya. Nabi saw bersabda: “Pada saat itulah keduanya membangun dasar-dasar Ka’bah, kemudian Isma’il mengusung batu dan Ibrahim yang membangun ....”
Az-Zarkasyi mengutip dari sejarah Mekkah karangan al-Azraqi bahwa Ibrahim membangun Ka’bah dengan tinggi tujuh depa, dalamnya ke bumi tiga puluh depa, dan lebarnya dua puluh depa, tanpa atap. As-Suhaili menceritakan bahwa tingginya sembilan depa. Menurut penulis (Dr. Al-Buthi ) riwayat as-Suhaili lebih tepat daripa riwayat al-Azraqi.
Pembangunan Ka’bah yang kedua adalah yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy sebelum Islam, dimana Nabi saw ikut serta dalam pembangunannya, sebagaimana telah kami sebutkan. Mereka membangunnya dengan tinggi delapan belas depa, dalamnya enam depa, dan beberapa depa mereka biarkan di hijir (Isma’il)
Menyangkut hal ini Rasulullah saw pernah bersabda dalam sebuah riwayat Aisyah : "Wahai Aisyah, kalau bukan karena kaummu masih dekat dengan masa jahiliyah, niscaya aku perintahkan (untuk membongkar dan membangun) Ka’bah, kemudian aku masukkan kepadanya apa yang pernah dikeluarkan darinya, aku perdalam lagi ke bumi dan aku buat padanya pintu timur dan barat, lalu aku sempurnakan sesuai asas Ibrahim."
Pembangunan Ka’bah yang ketiga ialah setelah mengalami kebakaran di mana Yazid bin Mu’awiyah, ketika tentara-tentaranya dari penduduk Syam menyerangnya.
Para tentara tersebut atas perintah Yazid, mengepung Abdullah bin Zubair di Mekkah dibawah pimpinan al-Hashin bin Numair as-Sakuni pada akhir tahun tiga puluh enam. Mereka melempari Ka’bah dengan menjanik sehingga menimbulkan kerusakan dan kebakaran. Kemudian Ibnu as-Zubair menunggu sampai orang-orang datang di musim Haji, lalu ia meminta pendapat mereka seraya berkata, “Wahai manusia, berilah pedapat kalian tentang Ka’bah. Aku gempur kemudian aku bangun lagi, atau aku perbaiki yang rusak-rusak saja?” Lalu Ibnu Abbas berkata, “ Menurut saya sebaiknya anda perbaiki yang rusah-rusak saja dan tidak perlu menggempurnya.” Ibnu as-Zubair berkata, “Seandainya rumah salah seorang kamu terbakar, maka ia pasti akan memperbaharuinya , apalagi ini rumah Allah. Sesungguhnya saya sudah tiga kali istikhara kepada Allah , kemudian bertekad melaksanakan keputusanku.”
Tiga hari berikutnya , ia memulai menggempurnya sampai rata dengan tanah. Kemudian Ibnu as-Zubair mendirikan beberapa tiang di sekitarnya dan memasang tutup di atasnya. Kemudian mereka mulai meninggikan bangunannya. Ia tambahkan enam depa pada bagian yang pernah dikurangi. Ia tambahkan panjangnya sepuluh depa, dan dibuat nya dua pintu, pintu masuk dan pintu keluar. Ibnu Az-Zubair berani memasukkan tambahan ini berdasarkan hadits Aisya dari Rasulullah saw terdahulu.
Pembangunan Ka’bah yang keempat dilakukan setelah terbunuhnya Ibnu Az-Zubair, imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari ‘Atha, bahwa ketika Ibnu az-Zubair terbunuh, al-Hajjaj menulis kepada Abdul Malik bin Marwan mengabarkan kematiannya, dan bahwa Ibnu az-Zubair membangun Ka’bah di atas yang masih dipermasalahkan oleh para tokoh kepercayaan Mekkah. Kemudian Abdul Malik menjawabnya melalui surat, "Kami tidak bisa menerima tindakan Ibnu Az-Zubair. Menyangkut tambahan panjangnya masih bisa ditolerir, tetapi menyangkut tambahan Hijjir (Isma’il) hendaklah dikembalikan kepada bangunannya (semula) dan tutuplah pintu yang dibukanya:” Maka digempurlah Ka’bah dan dibangun kembali.
Dikatakan bahwa ar-Rasyid pernah bertekad akan membongkar Ka’bah dan membangunnya kembali sebagai bangunan Ibnu Az-Zubair. Tetapi kemudian dicegah oelh Malik bin Anas, “Wahai Amirul Mukminin, janganlah rumah ini dijadikan permainan oleh para raja sesudahmu. Janganlah setiap orang dari mereka mengubahnya sesuka hatinya, karena tindakan tersebut akan menghapuskan wibawa rumah ini dari hati manusia,”. Kemudian ar-Rasyid membatalkan niatnya.
Itulah keempat kalinya pembangungan Ka’bah yang dapat diyakini kebenarannya. Adapun pembangunannya sebelum Ibrahim as, maka masih diperselisihkan dan diragukan kebenarannya. Apakah Ka’bah sebelum itu sudah dibangun atau belum ?
Disebutkan di dalam beberapa atsar dan riwayat, bahwa orang yang pertama kali membangunnya adalah Adam as. Di antaranya ialah apa yang diriwayatkan oleh Baihaqi di dalam kitab Dala’ilun Nubuwwah, dari hadits Abdullah bin Amr, ia berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Allah mengutus Jibril as kepada Adam as dan Hawa; lalu berkata kepada keduanya, “Bangunlah sebuah rumah untukku,” Kemudian Jibril membuatkan garis kepada keduanya. Lalu Adam mulai menggali, sementara itu Hawa, mengusungnya, “Cukup Adam!” Ketika keduanya telah membangunnya, Allah mengilhamkan kepada Adam agar ia thawaf di sekitarnya, dan dikatakan kepadanya, “ Kamu manusia pertama, dan ini adalah rumah pertama.” Kemudian berlalulah beberapa abad sampai Ibrahim meninggikan dasar-dasar bangunannya.
Al-Baihaqi berkata: “Ibnu Lahi’ah meriwayatkan secara sendirian. Ibnu Lahi’ah dikenal seorang yang lemah, tidak dapat dijadikan hujjah.
Selain itu terdapat riwayat lain yang semakna dengan riwayat yang dikeluarkan oleh Baihaqi ini, tetapi kesemuanya tidak terhindar dari kelemahan. Dikatakan juga, orang yang pertama kali membangunnya adalah Syits as.
Dengan demikian, Ka’bah berdasarkan riwayat-riwayat yang lemah telah dibangun sebanyak lima kali.
Tetapi sepatutnya kita berpegang kepada riwayat yang shahih, yaitu Ka’bah pernah dibangun sebanyak empat kali sebagaimana telah kami jelaskan. Adapun riwayat-riwayat yang menyebutkan pembangunannya selain yang empat kali tersebut, maka kita serahkan kepada Allah. Ini tentu saja tidak termasuk beberapa kali pemugaran dan perbaikan setelah itu.
Ketiga, kebijaksanaan Nabi saw dalam menyelesaikan masalah dan mencegah terjadinya permusuhan. Antar siapa? Antar kaum yang jika terjadi permusuhan jarang sekali tidak menumpahkan darah. Seperti telah diketahui, permusuhan mereka dalam masalah ini hampir saja menimbulkan peperangan Bani Abdi’d-Dar telah menghampiri mangkuk berisi darah, kemudian bersama Bani’Ady berikrar siap mati seraya memasukkan tangan-tangan mereka ke dalam darah tersebut. Sementara itu, kaum Quraisy tinggal diam selama empat atau lima malam tanpa adanya kesepakatan atau penyelesaian yang dapat diajukan sampai api fitnah tersebut padam di tangan Rasulullah saw.
Kita harus mengembalikan keistimewaan Rasulullah saw ini kepada persiapan Allah kepadanya untuk mengemban tugas risalah dan kenabian, sebelum mengembalikannya kepada kecerdasan dan kejeniusan Nabi saw yang telah menjadi fitrahnya.
Sebab asas pertama dalam pembentukkan kepribadian Nabi saw ialah bahwa ia sebagai seorang Rasul dan Nabi. Setelah itu baru menyusul keistimewaan-keistimewaan Nabi saw ynag lain seperti kecerdasan dan kejeniusannya.
Keempat, ketinggian kedudukan Nabi saw di kalangan tokoh Quraisy dari berbagai tingkatan dan kelas. Di kalangan mereka, Nabi saw dikenal sebagai al-amin (terpercaya) dan sangat dicintai. Mereka tidak pernah meragukan kejujurannya apabila berbicara, ketinggian akhlaknya apabila bergaul, dan keikhlasannya apabila dimintai bantuan melakukan sesuatu.
Hal ini mengungkapkan kepada anda, betapa kedengkian dan keangkuhan telah menguasai hati mereka, ketika mereka mendustakan, memusuhi dan manghalau dakwah yang disampaikannya kepada mereka.
Air Zamzam, Salah Satu Bukti Kekuasaan Allah
Bagi orang Muslim, air Zamzam bukan saja sekedar diyakini memiliki mukjizat. Namun lebih dari itu, memahaminya dalam konteks keimaman. Ainul Yakin, yaitu seyakin-yakinya bahwa Allah Maha Pengasih, Penyayang dan berkuasa atas umatnya.
Dalam literatur, Allah SWT menurunkan air Zamzam tentu melalui proses penanaman keyakinan bahwa Allah berkuasa atas mahluknya. Karena itu bagi umat Muslim perlu pula memahami sejarah air zamzam dan utusan-Nya Nabi Ibrahim AS. Bagi jemaah haji sekarang, tentu belum tahu dimana lokasi sumur air zamzam. Padahal, terletak kira-kira 11 meter dari Ka`bah. Jadi, ketika seseorang thawaf, tak akan sadar bahwa setiap putaran yang bersangkutan telah melintasi sumur zamzam. Sebelumnya, di atas sumur terdapat bangunan seluas 88 meter persegi. Namun, sejak tahun 1388, bangunan tersebut dirobohkan dan diperluas guna memudahkan jemaah thawaf.

Pemerintah Arab Saudi, hingga kini, terus memperbaiki berbagai fasilitas ibadah di Masjidil Haram. Termasuk Masjid Nabawi di Madinah. Perbaikan tersebut dimaksudkan agar diperolehkenyamanan bagi umat Muslin yang menunaikan ibadah umrah dan Haji.
Untuk proyek ini, pemerintah setempat mengeluarkan dana 70 miliar Saudi Real. Bahkan perluasan proyek Masjidil Haram diperluas 76 ribu meter persegi sehingga mencapai 356 ribu meter persegi.
Sedangkan proyek perluasan Masjid Nabawi Madinah mencapai 82 ribu meter persegi sehingga dapat menampung730 ribu jemaah hingga 1 juta orang, khususnya pada bulanRamadhan dan Idul Fitri.
Dalam kontek megaproyek itu, tentu terkait pula perbaikan sumur air zamzam. Secara bertahap, tempat mengambil air zam-zam pun berpindah, yakni ke ruang bawah. Untuk mencapainya harus melalui 23 anak tangga. Kemudian tahun 1953, mulai dibangun pompa air guna menyalurkan air ke bak penampungan serta ke kran-kran air yang ada di seputar masjid.
Menurut catatan, kedalaman sumur itu diketahui sekitar 30 meter. Sementara jarak permukaan air dengan bibir sumur adalah empat meter. Sedangkan diameter sumur berkisar antara 1,46 meter hingga 2,66 meter. Ketika sampai di dalam, yang ia lihat cuma lautan air,” kata Abdullah Satar. “Allah maha besar,” katanya lagi.
Hasil penelitian menyebutkan, mata air zamzam bisa memancarkan air sebanyak 11-18 liter air per detik. Itu berarti, setiap menit akan dihasilkan 660 liter air. Dari mata air itu, terdapat celah ke arah Hajar Aswad sepanjang 75 cm dan tinggi 30 cm yang menghasilkan banyak air.
Karena itu, jemaah haji dari berbagai negara tak perlu khawatir bahwa air zamzam akan habis. Untuk memudahkan jemaah memperoleh air zamzam, pemerintah Kerajaan Arab Saudi membentuk petugas yang khusus mengurusi pemeliharaan fasilitas air zamzam. Pada 1415 H dibentuk kantor atau lembaga yang mengurusi air zamzam. Petugasnya selalu siap mengganti dan memperbaiki apabila ada kerusakan. Karenanya, petugas ini tidak pernah jauh dari lokasi kran air zamzam, sambil membawa peralatan maupun persediaan gelas plastik.
Pemerintah Arab Saudi tak pernah menjual air zamzam. Karena itu jemaah dibolehkan membawa dalam jumlah terbatas ke pemondokan masing-masing ukuran 1 hingga 5 liter, yang diangkut dengan jerigen atau kantong plastik.
Namun ada juga orang memanfaatkan air zamzam sebagai lahan bisnis. Umumnya mereka menjual satu jerigen air berbagai ukuran dengan harga beragam. Namun paling mahal 10 real untuk ukuran jerigen lima liter.
Banyak orang di tanah air mengomentari bahwa air zamzam dapat menyembuhkan penyakit, termasuk penyakit “hati” manusia. Namun, belum sepenuhnya memahami bahwa melalui air zamzam Allah ingin memberi pembelajaran kepada umatnya melalui utusan-Nya, Nabi Ibrahim, tentang kewajiban manusia untuk menyembah Allah semata.
Tatkala Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail serta ibunya, Hajar, datang ke Mekkah, Ibrahim meninggalkan keduanya dengan membekali air dan kurma. Lantas, setelah beberapa lama, persediaan air habis. Naiklah Hajar ke Shafa dengan harapan, barangkali, dapat melihat seseorang untuk menolongnya.
Namun, Hajar tak melihat seorang pun. Larilah Hajar ke bukit Marwa, dengan tujuan serupa. Demikian Hajar bolak-balik antara Shafa dan Marwa sehingga sampai pada putaran ketujuh ia mendengar sebuah bunyi, yang ternyata Malaikat tengah mengepakkan sayapnya. Maka, muncullah mata air (zamzam). Dari situlah Hajar minum dan menyusui anaknya, Ismail. Kemudian datanglah ke Mekkah suatu kabilah dari Yaman, dengan sebutan Jurhum, dan menetap di sana.
Lagi-lagi, manusia tak bersyukur kepada Allah. Kesucian Ka`bah tercemar oleh kemusyrikan. Air mata zamzam pun mengering dan sumurnya pun ikut tenggelam sehingga tak diketahui seorang pun selama berabad-abad.
Adalah Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad SAW, bermimpi didatangi suara gaib, yang menyuruhnya menggali zamzam, yang sebetulnya berada persis di tempat sumur zamzam semula. Setelah digali, keluarlah air. Dan, Abdul Muthalib membolehkan siapa saja minum dari mata air tersebut Allah berkat dikabulkannya doa Ibrahim, sekaligus menjadi penentu berkembangnya kota Mekkah.
Ini juga sekaligus sebagai bukti nyata dan membawa manfaat bagi Masjidlil Haram.Air zamzam adalah air terbaik di muka bumi dari sumur tertua di dunia, berada di tempat paling suci di muka bumi. Air ini pula yang digunakan untuk mencuci hati RAsullallah lebih dari satu kali. Rasullallah pula pernah memberkatinya dengan air ludah beliau yang suci, air yang berfungsi sebagai makanan sekaligus obat untuk menyembuhkan berbagai penyakit dan menjadikan badan seseorang sehat/kuat. Itulah keutamaan air zamzam yang telah ada di muka bumi sejak 5000 tahun silam, sehingga dikatakan sebagai sumur tertua di muka bumi.
DAFTAR PUSTAKA
-
Sirah Nabawiyah, Dr. Muhammad Sa`id Ramadhan Al Buthy, alih bahasa (penerjemah): Aunur Rafiq Shaleh, terbitan Robbani Press.
-
Kisah-Kisah tentang Ka’bah, Penerbit Al-Ilmu
-
-
-