Blog EntryOTAK SEBAGAI SAKSI DI AKHIRATMar 18, '08 9:33 PM
for everyone

OTAK SEBAGAI SAKSI DI AKHIRAT

           

Gambar : Bentuk Otak

       Otak menguasai, mengendalikan, dan mencatat seluruh kegiatan manusia, seperti: gerakan seluruh bagian tubuh, pancaindera, perencanaan, peran intelektual tinggi (berbicara, belajar, menulis, membaca, dan berfikir).

        Setiap fungsi kegiatan tersebut mempunyai kawasan sendiri-sendiri. Setiap kegiatan yang dilakukan manusia meninggalkan bekas dalam sel otak. Bekas-bekas ini belum terungkap dengan jelas oleh ilmu pengetahuan. Bekas-bekas yang tersimpan dalam otak inilah yang menjadi proses intelektual tinggi manusia.

         Menarik untuk disimak hipotesis yang diajukan oleh Dr. Muhammad Ustman Najati (1982) dalam bukunya: “Al quran wa ilmu al nafs”, yang diterjemahkan oleh Ahmad Rofi’ Usmani (1985). Dia menyatakan bahwa kelak di akhirat, otak akan berperan sebagai saksi atas segala perbuatan manusia di dunia.

         Al quran telah menyatakan dengan jelas bahwa pendengaran, penglihatan, dan kulit/perasa (Q.S. 41: 19-21), lidah, tangan, dan kaki (Q.S. 24: 24 dan Q.S. 36: 65) akan menjadi saksi atas segala perbuatan kita ketika di dunia.

        Oleh karena segala perbuatan kita tercatat dalam sel-sel otak, maka adalah mungkin bisa berbunyi dan menyatakan semua apa yang dicatatnya, seperti tape recorder atau compact disk.

        Allah-lah yang menjadikan semuanya itu, dan Allah-lah yang maha tahu bagaimana persaksian itu. 
         Kita kaji firman-firman Allah (Q.S. 17: 13-14; Q.S. 39: 69; Q.S. 18: 49} bahwa ada satu kitab yang terbuka , buku perhitungan, kitab yang berisi tulisan segala perbuatan setiap manusia yang diperlihatkan kelak di akhirat.

         Kita tidak mengetahui apa bentuk kitab tersebut, Allah-lah yang maha tahu. Dengan hitungan trilliunan sel-sel syaraf, entah berapa juta gigabit dapat mencatat semua kegiatan manusia.

          Kalau dihamparkan lapisan-lapisan otak yang berlipat-lipat itu, diperkirakan luasnya sekitar 16 meter persegi. Apakah hamparan otak ini yang dikatakan Allah sebagai buku tersebut, Allah-lah yang maha tahu.
          Melihat fakta ini kita mestinya menjadi ingat dan sadar bahwa segala perbuatan kita yang baik, yang buruk akan tercatat, bahkan berupa niat saja tetap akan tercatat di sel-sel saraf otak tersebut.

Sumber:
Prof. DR. H. Rusdi Lamsudin* Guru besar neurologi, Fak. Kedokteran U.G.M. Tulisan ini pernah dimuat dalam kolom Hikmah hr. Republika 21-10-1994 dan dikutip dengan izin dari penulis artikel.

Perhatian: Ada perbedaan mendasar antara falsafah Minang dengan falsafah Materialisme Barat. 

Gambar Posisi Otak

          Ilmuwan Barat percaya, perasaan dikendalikan otak, sedangkan adagium Adat Minang menyebutkan Raso (perasaan) yang harus dibawa naik ke otak. Iman yang merupakan konsep Islam, secara dialektika adalah bagian dari "raso". Iman tak pernah ada tanpa "raso". Sedangkan "raso" tak akan diketahui tanpa kesadaran otak.
Selanjutnya otaklah yang memahami alam, melalui pancaindera yang dimiliki tubuh manusia.

Rujukan:


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help